Sabtu, 30 Mei 2020

Keterampilan Mengadakan Variasi dan Keterampilan Menjelaskan

TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
Tentang
Keterampilan Mengadakan Variasi dan Keterampilan Menjelaskan



Disusun Oleh:
MILA KURNIA
(1820097)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing
Yessi Rifmasari,M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA 
PADANG
2020




A.Keterampil Mengadakan Variasi dan Keterampilan Menjelaskan 

1. keterampilan mengadakan variasi

Variasi adalah keanekaan yang membuat sesuatu tidak monoton. Jadi keterampilan menggunakan variasi merupakan keterampilan guru dalam menggunakan bermacam kemampuan dalam mengajar untuk memberikan rangsangan kepada siswa agar suasana pembelajaran selalu menarik, sehingga siswa bergairah dan antusias dalam menerima pembelajaran dan aktivitas belajar mengajar dapat  berlangsung secara efektif.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tidak terbebas dari kejenuhan apabila melihat serta mendengarkan hal yang sama. Demikian pula dalam bidang pembelajaran. Siswa akan menjadi bosan apabila setiap hari hanya menjumpai hal-hal yang rutin, seperti mendengarkan uraian guru semata. Untuk mengatasi kebosanan tersebut, guru dapat memberikan variasi dalam kegiatan pembelajaran. Variasi yang dapat dilakukan guru mencakup :

a.  Variasi suara, meliputi: 
  • pemusatan perhatian,
  • kesenyapan,
  • kontak pandang,
  • gerakan dan mimik, serta
  • pergantian posisi.

b. Variasi penggunaan media dan alat pembelajaran, mencakup:
  • variasi media dan alat yang dapat dilihat,
  • variasi media dan alat yang dapat didengar, serta
  • variasi media atau alat yang diraba atau dimanipulasi.

c. Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa
 Pola ini sangat beragam, dari pola yang didominasi oleh guru sampai dengan pola yang memberi kesempatan siswa untuk bekerja sendiri sepenuhnya.

d. Tujuan penggunaan variasi dalam proses belajar mengajar yaitu menghilangkan kebosanan dalam mengikuti proses belajar, mempertahankan kondisi optimal belajar, meningkatkan perhatian dan motivasi peserta didik, dan memudahkan pencapaian tujuan pengajaran.

e. Jenis-jenis variasi dalam mengajar 
  1. variasi dalam gaya mengajar, mencakup variasi suara, pemusatan perhatian, kesenyapan,mengadakan kontak pandang, gerakan pandang dan mimik serta perubahan dalam posisi guru.
  2. variasi pola interaksi dan kegiatan, mencakup pola interaksi klasikal, kelompok dan perorangan.
  3. variasi dalam penggunaan metode, contohnya variasi alat bantu pembelajaran yang dapat dilihat, variasi alat bantu pembelajaran yang dapat didengar, variasi alat bantu pembelajaran yang dapat diraba dan dimanipulasi.
  4. Prinsip-prinsip penggunaan variasi dalam pengajaran adalah Variasi yang digunakan harus mengandung maksud tertentu, gunakan variasi dengan wajar dengan tidak berlebihan, perubahan satu jenis variasi ke variasi lainnya harus efektif dan penggunaan variasi harus direncakan dan sesuai dengan bahanmetode, dan karakteristik peserta didik.  

2. Keterampilan Menjelaskan

 a.  Pengertian keterampilan menjelaskan 

Keterampilan menjelasakan adalah suatu keterampilan menyajikan bahan belajar yang diorganisasikan secara sistematis sebagai suatu kesatuan yang berarti, sehingga mudah dipahami para peserta didik.
    Keterampilan menjelaskan dalam pengajaran adalah penyajian informasi secara lisan yang diorganisir dengan sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan antara satu pesan dengan pesan yang lainnya, sehingga tercapailah suatu pemahaman yang diinginkan. Misalnya antara sebab dan akibat, definisi dengan contoh, atau dengan suatu yang belum diketahui.
    Pengertian menjelaskan adalah mendeskripsikan secara lisan tentang suatu benda, keadaan, fakta dan data sesuai dengan waktu dan hukum-hukum yang berlaku. Menjelaskan juga dapat diartikan sebagai penyajian informasi lisan yang diorganisasikan secara sistematis yang bertujuan untuk menunjukkan hubungan, mislnya antara sebab dan akibat, atau antara yang diketahui dan yang belum diketahui, atau antara hukum (dalil dan definisi) yang berlaku umum dengan ukti atau contoh sehari-hari.

b. Komponen-komponen merencanakan penjelasan, mencakup:
  • hal-hal yang berhubungan dengan isi pesan,dan
  • hal-hal yang berhubungan dengan siswa sebagai penerima pesan.

c. TUJUAN 

  1. Membimbing siswa untuk dapat memahami ilmu pengetahuan secara objektif dan bernalar.
  2. Melatih siswa untuk senantiasa berkonsentrasi dalam menyimak penjelasan guru sehingga melibatkan mereka untuk berpikir sambil memecahkan masalah-masalah atau pertanyaan.
  3. Untuk mendapat respon dan umpan balik (feed back) siswa mengenai tingkat pemahamannya serta untuk mengatasi kesalahpahaman mereka.
  4. Membimbing siswa untuk menghayati dan mendapat proses penalaran dengan menggunakan bukti-bukti dalam pemecahan masalah tersebut.
  5. Meningkatkan keefektifan pembicaraan agar benar-benar merupakan penjelasan yang bermakna bagi siswa karena pada umumnya pembicaraan lebih didominasi oleh guru daripada oleh siswa.

KOMPONEN DAN CONTOH

Komponen keterampilan menjelaskan terbagi menjadi 2, yaitu :

1. Komponen merencanakan penjelasan

a. Isi pesan (tema)

Isi pesan yang dipilih dan disusun harus dijelaskan secara sistematis disertai contoh-contoh.

Cakupannya :
  • Menganalisis masalah secara keseluruhan

Contoh : Pesawat terbang dapat terbang karena adanya unsure sayap khusus dan angin yang dapat dilihat keterkaitanya.
  • Menentukan jenis hubungan yang ada antara unsur-unsur yang dikaitkan

Contoh : Kecepatan angina yang berada pada bagian atas dan bawah sayap pesawat
  • Menggunakan hukum, rumus, dan generalisasi yang sesuai dengan hubungan yang telah ditentukan

Contoh : Prinsip sayap pesawat terbang dapat dipakai dalam mendesai mobil balap.
Penerima pesan harus dipertimbangkan karakteristiknya.

Kesiapan siswa memahami penjelasan, berkaitan erat dengan usia, jenis kelamin, kemampuan, latar belakang sosial, dan lingkungan belajar.

Sehubungan dengan itu ada tiga pertanyaan yang harus membimbing seseorang untuk merencanakan suatu penjelasan, yaitu :
  1. Apakah penjelasan itu cukup relevan dengan pertanyaan yang diajukan siswa
  2. Apakah penjelasan itu memadai, yakni mudah diserap siswa melalui apa yang telah diketahui
  3. Apakah penjelasan itu cocok dengan khazanah pengetahuan anak pada waktu itu.

Contoh : Siswa yang berada pada tingkat operasi kongkrit dengan pemakaian istilah yang masih terbatas dan kalimat yang panjang masih sukar ditangkap penggunaan contoh harus lebih banyak.

2. Komponen menyajikan penjelasan

a.  Kejelasan

Kejelasan yaitu keterampilan yang erat kaitannya dengan penggunaan bahasa lisan. Kejelasan dalam menjelaskan, dapat dicapai dengan berbagai cara seperti bahasa yang jelas, berbicara dengan lancar, dan mendefinisikan istilah-istilah teknis, serta berhenti sejenak untuk melihat respon peserta didik.

b.  Penggunaan contoh dan ilustrasi

Agar penjelasan yang diberikan dapat dipahami sesuai dengan tujuan yang diharapkan maka diperlukan beberapa contoh dan ilustrasi. Penggunaan contoh dan ilustrasi dapat dilakukan mengikuti pola induktif atau pola deduktif.

Induktif, yaitu memberikan contoh terlebih dahulu dan akhirnya menyimpulkan.
Deduktif, yaitu menggunakan contoh untuk memperjelas suatu hukum atau generalisasi yang diberikan terlebih dahulu.

Pola yang digunakan bergantung pada materi pembelajaran, kemampuan, usia dan latar belakang kemampuan peserta didik tentang pembelajaran tersebut.

c.  Pemberian tekanan

Pemberian tekanan dilakukan pada bagian-bagian yang penting dengan cara penekanan suara atau mengemukakan tujuan. Keterampilan memberikan tekanan mencakup :
  • Mengadakan variasi dalam gaya mengajar guru

Contoh : Memberi tekanan pada suara guru ketika memberikan butir-butir yang dianggap penting.
  • Membuat struktur sajian

Yaitu menunjukkan tujuan utama sajian.
Contoh :
Memberikan pengulangan
Mengatakan sesuatu yang dianggap penting dengan kalimat lain
yang lebih mudah dipahami
Memberikan tanda lisan, seperti kata “pertama” , ”kedua” dll.
Peserta didik diberi kesempatan untuk menunjukkan pemahaman ataupun keraguan ketika penjelasan berlangsung (balikan).

Balikan bertujuan untuk mendapat informasi tentang tingkat pemahaman siswa, baik melalui pertanyaan mapun melalui tugas.Pada waktu memberikan penjelasan, hendaknya guru memperhatikan gerak-gerik dan mimik peserta didik, apakah penjelasan yang diberikan dapat dipahami atau meragukan, menyenangkan atau membosankan, dan apakah menarik perhatian atau tidak. Untuk kepentingan tersebut, perhatikanlah mereka selama memberikan penjelasan, ajukan pertanyaan-pertanyaan dan memberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan.


Daftar rujukan:

http://keguruandanpendidikan.blogspot.com/2011/10/sbm.htmlSukirman, Dadang. 2010. Keterampilan Dasar Mengajar. D:\Pasca sarjana UNP\Strategi

pembelajaran fisika\BAHAN\06 Keterampilan Dasar Guru\makalah ket das mengajar.  

Keterampilan Mengelola kelas

Tugas
Strategi pembelajaran
Tentang 
Mengelola kelas


Disusun Oleh:

Nama    : MILA KURNIA
NIM      : 1820097
Kelas      : PGSD 4.4

DOSEN PENGAMPU
Yessi Rifmasari, M.Pd.

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2020






KETERAMPILAN MENGELOLA KELAS

1. Pengertian Keterampilan Mengelola kelas

Depdikbud, 1985 keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, dan keterampilan untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal, apabila terdapat gangguan dalam proses belajar baik yang bersifat gangguan kecil dan sementara maupun gangguan yang berkelanjutan.

Menurut (Majid, 2014) pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya jika terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar.

Menurut (Mulyasa, 2013) pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran.

Menurut (Usman, 2013) pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar.

Menurut (Wardani, 2005) keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan dalam menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal guna terjadinya proses pembelajaran yang selalu serasi dan efektif.

Menurut (Wina Sanjaya, 2005) bahwa pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya manakala terjadi hal-hal yang dapat mengganggu suasana pembelajaran.

Menurut (Winataputra, 2004) keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, serta keterampilan guru untuk mengembalikan kondisi belajar yang terganggu ke arah kondisi belajar yang optimal.

Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan yang digunakan oleh seorang guru dalam proses  pembelajaran guna untuk mengkondisikan belajar siswa dengan harapan supaya terjadi suatu kondisi kelas yang kondusif, memaksimalkan sarana dan prasarana, menjaga keterlibatan siswa, menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang optimal dan rasa nyaman dalam proses belajar mengajar. Maka dalam melaksanakan keterampilan mengelola kelas, perlu memperhatikan komponen keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal. Hal ini berkaitan dengan kemampuan seorang guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran.


2. Tujuan Mengelola kelas

Menurut (Usman, 2002)  pengelolaan kelas mempunyai dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.

Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas belajar untuk bermacam-macam kegiatan belajar mengajar agar mencapai hasil yang baik.

Tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan.
Adapun tujuan dari pengelolaan kelas menurut (Suharsimi, 1996) adalah agar setiap anak dikelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Pengelolaan kelas tersebut dimaksudkan untuk menciptakan suatu kondisi dalam kelompok kelas yang baik, kondusif dan terarah yang memungkinkan siswa untuk berbuat dan beraktifitas sesuai dengan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya.


3. Komponen Keterampilan Mengelola kelas

Menurut ( Wardani, 2005) komponen keterampilan mengelola kelas meliputi:
Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal.
Memperlihatkan sikap yang tanggap dengan melihat secara jeli dan seksama, mendekatkan diri, memberikan sebuah pernyataan, atau memberi reaksi terhadap gangguan kelas.
Membagi perhatian secara visual dan verbal.
Memusatkan perhatian kelompok dengan cara menyiapkan siswa dan menuntut tanggungjawab siswa.
Memberi petunjuk-petunjuk yang jelas.
Menegur secara bijaksana, yaitu secara jelas dan tegas, bukan berupa peringatan atau ocehan, serta membuat aturan.
Memberikan penguatan seperlunya.
Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal.
Modifikasi tingkah laku. Dalam strategi ini, hal pokok yang harus dikuasai seorang guru adalah mengajarkan tingkah laku baru yang diinginkan dengan cara memberikan contoh, bimbingan dan meningkatkan munculnya tingkah laku siswa yang baik dengan memberikan penguatan.

Pengelolaan/ proses kelompok. Dalam strategi ini kelompok dimanfaatkan dalam memecahkan masalah-masalah pengelolaan kelas yang muncul, terutama melalui diskusi.

Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah. Dalam strategi ini perlu ditekankan bahwa setiap tingkahlaku yang keliru merupakan gejala dari suatu permasalahan.


4. Prinsip Pengunaan Keterampilan Mengelola Kelas

Menurut (Wardani, 2005) dalam menerapkan keterampilan mengelola kelas perlu diingat 6 prinsip, yaitu:

  1. Kehangatan dan keantusiasan dalm mengajar, yang dapat menciptakan iklim kelas yang menyenangkan.
  2. Menggunakan kata-kata atau tindakan yang dapat menantang siswa untuk berfikir.
  3. Menggunakan berbagai variasi yang dapat menghilangkan kebosanan.
  4. Keluwesan guru dalam pelaksanaan tugas.
  5. Penekanan pada hal-hal yang bersifat positif.
  6. Penanaman disiplin diri sendiri.


Sedangkan prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang dikemukakan oleh (Usman, 2013) adalah sebagai berikut:

  1. Kehangatan dan keantusiasan
  2. Tantangan
  3. Bervariasi
  4. Keluwesan
  5. Penekanan pada hal-hal yang positif

Rabu, 06 Mei 2020

Pembelajaran Efektif

TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
Tentang
Kegiatan Pengayaan 



Disusun Oleh:
MILA KURNIA
(1820097)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing
Yessi Rifmasari,M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA 
PADANG


2020


A.  Hakikat Pembelajaran Efektif
1.    Pengertian Belajar dan Pembelajaran
Belajar pada hakikatnya merupakan suatu usaha, suatu proses perubahan yang terjadi pada individu sebagai hasil dari pengalaman atau hasil dari pengalaman interaksi dengan lingkungannya.[2] Belajar juga kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan, hal ini berarti keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan sangat tergantung pada keberhasilan proses belajar siswa di sekolah dan lingkungan sekitarnya. Soemanto[3]
Menurut Hamalik Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi (siswa dan guru), material (buku, papan tulis, kapur dan alat belajar), fasilitas (ruang, kelas audio visual), dan proses yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran[4]. Dapat disimpulkan bahwa secara umum pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik. Pembelajaran bertujuan membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa menjadi bertambah, baik kuantitas maupun kualitasnya.

2.    Pengertian Efektif
Efektif adalah perubahan yang membawa pengaruh, makna dan manfaat tertentu. Pembelajaran yang efektif ditandai dengan sifatnya yang menekankan pada pemberdayaan siswa secara aktif.

3. Hakikat Pembelajaran Efektif
Hakikat pembelajaran yang efektif adalah proses belajar mengajar yang bukan saja terfokus kepada hasil yang dicapai peserta didik, namun bagaimana proses pembelajaran yang efektif mampu memberikan pemahaman yang baik, kecerdasan, ketekunan, kesempatan dan mutu serta dapat memberikan perubahan prilaku dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka.[5]
Pembelajaran efektif akan melatih dan menanamkan sikap demokratis bagi siswa, serta dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga memberikan kreatifitas siswa untuk mampu belajar dengan potensi yang sudah mereka miliki yaitu dengan memberikan kebebasan dalam melaksanakan pembelajaran dengan cara belajarnya sendiri. Di dalam menempuh dan mewujudkan tujuan pembelajaran yang efektif maka perlu dilakukan sebuah cara agar proses pembelajaran yang diinginkan tercapai yaitu dengan cara belajar efektif. Untuk meningkatkan cara belajar yang efektif perlu adanya bimbingan dari guru.


B. Karakteristik Pembelajaran yang Efektif
Terdapat beberapa karakteristik pembelajaran yang efektif antara lain:

1.    Belajar secara aktif baik mental maupun fisik. Aktif secara mental ditunjukkan dengan mengembangkan kemampuan intelektualnya, kemampuan berfikir kritis. Dan secara fisik, misalnya menyusun intisari pelajaran, membuat peta dan lain-lain.
2.    Metode yang bervariasi, sehingga mudah menarik perhatian siswa dan kelas menjadi hidup.
3.    Motivasi guru terhadap pembelajaran di kelas.
4.    Suasana demokratis di sekolah, yakni dengan menciptakan lingkungan yang saling menghormati, dapat mengerti kebutuhan siswa, tenggang rasa, memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar mandiri, menghargai pendapat orang lain.
5.    Pelajaran di sekolah perlu dihubungkan dengan kehidupan nyata.
6.    Interaksi belajar yang kondusif, dengan memberikan kebebasan untuk mencari sendiri, sehingga menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar pada pekerjaannya dan lebih percaya diri sehingga anak tidak menggantungkan pada diri orang lain.
7.    Pemberian remedial dan diagnosa pada kesulitan belajar yang muncul, mencari faktor penyebab dan memberikan pengajaran remedial sebagai perbaikan, jika diperlukan [6]


C. Kondisi Efektif
       Dalam menciptakan kondisi yang baik, hendaknya guru memperhatikan dua hal: pertama, kondisi internal merupakan kondisi yang ada pada diri siswa itu sendiri, misalnya kesehatan, keamanannya, ketentramannya, dan sebagainya. Kedua, kondisi eksternal yaitu kondisi yang ada di luar pribadi manusia, umpamanya kebersihan rumah, penerangan serta keadaan lingkungan fisik yang lain. Dalam mewujudkan kondisi pembelajaran yang efektif, maka perlu dilakukan langkah-langkah berikut ini:
1.    Melibatkan siswa secara aktif
2.    Menarik minat dan perhtian siswa
3.    Membangkitkan motivasi siswa
4.    Memberikan pelayanan individu Siswa
5.    Menyiapkan dan menggunakan berbagai media dalam pembelajaran


D. Suasana Pembelajaran Efektif
Beberapa suasana yang efektif dalam pelaksanaan proses pembelajaran:

1.    Suasana belajar yang menyenangkan
Suasana belajar yang menyenangkan akan terwujud apabila terdapat keterlibatan penuh, perhatian peserta didik tercurah, lingkungan belajar yang menarik (misalnya keadaan kelas terang, pengaturan tempat duduk leluasa untuk peserta didik bergerak),dan adanya rasa aman dan bersemangat.

2. Suasana Bebas
Suasana bebas atau terbuka (permisif) merupakan kebebasan bagi siswa dalam berbicara dan atau berpendapat.

3. Pemilihan media pengajaran dan metode yang sesuai
Guru dituntut mampu memiliki dan menggunakan media pengajaran sesuai dengan materi yang akan di sajikan, dituntut mampu menggunakan metode mengajar secara stimulan untuk menghidupkan suasana pengajaran dengan baik.


E. Upaya Memelihara Kondisi dan Suasana Belajar yang Efektif
Upaya-upaya yang dilakukan ini merupakan usaha dalam menciptakan sekaligus memelihara kondisi dan suasana belajar yang efektif antara lain:

1.    Tanggung jawab pendidik
Guru sebagai perancang pengajaran dituntut memiliki kemampuan untuk merencanakan kegiatan belajar mengajar secara efektif, yang berarti harus memiliki pengetahuan dan keahlian yang profesional serta kesiapan pada proses belajar mengajar.

2.      Penataan lingkungan belajar
Dalam memelihara kondisi dan suasana yang efektif perlu adanya penataan lingkungan belajar. Aktivitas guru dalam menata lingkungan belajar lebih terkonsentrasi pada pengelolaan lingkungan belajar di dalam kelas. Oleh karena itu guru dalam melakukan penataan lingkungan belajar dikelas tiada lain melakukan aktivitas pengelolaan kelas atau manajemen kelas (classroom management).

3. Cara pengajaran pendidik
Dalam rangka memelihara kondisi dan suasana belajar yang efektif maka guru harus mampu memilih cara yang tepat dalam pelaksanaan pembelajaran. Karena mengajar adalah hal yang kompleks dan melibatkan peserta didik yang bervariasi, maka seorang Pendidik harus mampu dan menguasai beragam strategi dan perspektif serta dapat mengaplikasikannya secara fleksibel.


F. Strategi Pembelajaran Efektif
     Untuk meningkatkan cara belajar yang efektif diperlukan strategi yang tepat agar pembelajaran dapat berjalan dengan optimal dan seefektif mungkin. Dalam melaksanakan strategi tersebut, diperlukan beberapa hal yaitu:

1.    Prinsip-prinsip belajar
Prinsip belajar merupakan cara untuk mencapai pembelajaran yang efektif. Dengan adanya prinsip belajar ini, akan terjadi sebuah perubahan bagi peserta didik yang signifikan diantaranya:
a.    Perubahan yang disadari
b.    Perubahan yang berkesinambungan

2.      Esensi Belajar
a.   Perubahan seluruh aspek pribadi
b.   Proses yang disengaja dan disadari
c.   Terjadi karena ada dorongan/kebutuhan yang ingin dicapai
d.  Bentuk pengalaman yang sistematis, dan terarah

3.      Rangkaian aktivitas belajar
a. Adanya kebutuhan dan tujuan : merasakan adanya kekurangan
b.    Kesiapan untuk memenuhi kebutuhan
c.   Pemahaman situasi : melihat aspek yang terkait dengan belajar
d.  Menafsirkan situasi : hubungan berbagai aspek
e.    Respons : aktivitas belajar

4.    Hasil Pembelajaran
a.    Informasi verbal
b.    Kecakapan intelektual : diskriminasi, konsep konkret, aturan
c.    Strategi kognitif
d.   Sikap
e.    Kecakapan motorik

5.    Kualitas belajar
a.    Belajar untuk menjadi diri sendiri
b.    Belajar untuk belajar
c.    Belajar untuk berbuat
d. Belajar untuk hidup bersama secara damai



Sumber :

Djiwandoro, Sri Esti Wuryani. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Grasindo.

Hamalik, Oemar. 2002. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Slameto. 1995.Belajar dan Faktor-Faktor Belajar yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.

Soemanto. Wasty. 1998. Psikologi Pendidikan: Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.