Minggu, 26 April 2020

Kegiatan Pengayaan

TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
Tentang
Kegiatan Pengayaan 



Disusun Oleh:
MILA KURNIA
(1820097)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing
Yessi Rifmasari,M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA 
PADANG
2020


A. Pengertian Pembelajaran Pengayaan

Pengayaan adalah kegiatan tambahan yang dieberikan kepada siswa yang telah mencapai ketenetuan dalam belajar yang diamaksudkan untuk menambah wawasan atau memeperluas pengetahuannya dalam materi pelajran yang telah dipelajarinya. Disamping itu pembeljaran pengayaan bisa diaetikan memberikan  pemahaman yang lebih dalam dari pada sekedar standar kompetensi dalam kurikkulum. 

Dalam hal ini, mukhtar dan rusmini (2009) menguatakan bahwa kegiatan oengayaan merupakan kegiatan yang relatif bebas, karena bersifat memperluas, memperdalam dan menunjang satuan pelajaran yang diterapkan kepada semua siswa yang sudah tuntas dalam belajar. Artinya, kegiatan pengayaan ini bukanlah merupakan suatu kasus yang dialami oleh siswa-siswa yang belum tuntas yang disebabkan oleh kelambatan, kesulitan atau kegagalan dalam belajar.


B. Tujuan Pembelajaran Pengayaan

Kegiatan pengayaan dilaksanakan dengan tujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam penguasaan materi pelajaran yang berkaitan dengan tugas belajar yang sedang dilaksanakan sehingga tercapai tingkat perkembangan yang optimal.


C. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Pengayaan

Prinsip-prinsip program pengayaan yang perlu diperhatikan dalam mengonsep program pengayaan menurut Khatena (1992):

a.       Inovasi
Guru perlu menyesuaikan program yang diterapkannya dengan kekhasan peserta didik, karakteristik kelas serta lingkungan hidup dan budaya peserta didik.

b.      Kegiatan yang memperkaya
Dalam menyusun materi dan mendisain pembelajaran pengayaan, kembangkan dengan kegiatan yang menyenangkan, membangkitkan minat, merangsang pertanyaan, dan sumber-sumber yang bervariasi dan memperkaya.

c.       Merencanakan metodologi yang luas dan metode yang lebih bervariasi. Misalnya dengan memberikan project, pengembangan minat dan aktivitas-akitivitas menggugah (playful). Menerapkan informasi terbaru, hasil-hasil penelitian atau kemajuan program-program pendidikan terkini.


D. Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan

Pemberian pembelajaran pengayaan pada hakikatnya adalah pemberian bantuan bagi peserta didik yang memiliki kemampuan lebih, baik dalam kecepatan maupun kualitas belajarnya. Agar pemberian pengayaan tepat sasaran maka perlu ditempuh langkah-langkah sistematis, yaitu (1) mengidentifikasi kelebihan kemampuan peserta didik, dan (2) memberikan perlakuan (treatment) pembelajaran pengayaan.

1. Identifikasi Kelebihan Kemampuan Belajar

a. Tujuan

Identifikasi kemampuan berlebih peserta didik dimaksudkan untuk mengetahui jenis serta tingkat kelebihan belajar peserta didik. Kelebihan kemampuan belajar itu antara lain meliputi:

  1. Belajar lebih cepat. Peserta didik yang memiliki kecepatan belajar tinggi ditandai dengan cepatnya penguasaan kompetensi (SK/KD) mata pelajaran tertentu.
  2. Menyimpan informasi lebih mudah Peserta didik yang memiliki kemampuan menyimpan informasi lebih mudah, akan memiliki banyak informasi yang tersimpan dalam memori/ ingatannya dan mudah diakses untuk digunakan.
  3. Keingintahuan yang tinggi. Banyak bertanya dan menyelidiki merupakan tanda bahwa seorang peserta didik memiliki hasrat ingin tahu yang tinggi.
  4. Berpikir mandiri. Peserta didik dengan kemampuan berpikir mandiri umumnya lebih menyukai tugas mandiri serta mempunyai kapasitas sebagai pemimpin.
  5. Superior dalam berpikir abstrak. Peserta didik yang superior dalam berpikir abstrak umumnya menyukai kegiatan pemecahan masalah.
  6. Memiliki banyak minat. Mudah termotivasi untuk meminati masalah baru dan berpartisipasi dalam banyak kegiatan.

b. Teknik

Teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemampuan berlebih peserta didik dapat dilakukan antara lain melalui : tes IQ, tes inventori, wawancara, pengamatan, dsb.

  1. Tes IQ (Intelligence Quotient) adalah tes yang digunakan untuk mengetahui tingkat kecerdasan peserta didik. Dari tes ini dapat diketahui tingkat kemampuan spasial, interpersonal, musikal, intrapersonal, verbal, logik/matematik, kinestetik, naturalistik, dsb.
  2. Tes inventori. Tes inventori digunakan untuk menemukan dan mengumpulkan data mengenai bakat, minat, hobi, kebiasaan belajar, dsb.
  3. Wawancara. Wanwancara dilakukan dengan mengadakan interaksi lisan dengan peserta didik untuk menggali lebih dalam mengenai program pengayaan yang diminati peserta didik.
  4. Pengamatan (observasi). Pengamatan dilakukan dengan jalan melihat secara cermat perilaku belajar peserta didik. Dari pengamatan tersebut diharapkan dapat diketahui jenis maupun tingkat pengayaan yang perlu diprogramkan untuk peserta didik.

2. Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan

Bentuk-bentuk pelaksanaan pembelajaran pengayaan dapat dilakukan antara lain melalui:

  1. Belajar Kelompok. Sekelompok peserta didik yang memiliki minat tertentu diberikan pembelajaran bersama pada jam-jam pelajaran sekolah biasa, sambil menunggu teman-temannya yang mengikuti pembelajaran remedial karena belum mencapai ketuntasan.
  2. Belajar mandiri. Secara mandiri peserta didik belajar mengenai sesuatu yang diminati.
  3. Pembelajaran berbasis tema. Memadukan kurikulum di bawah tema besar sehingga peserta didik dapat mempelajari hubungan antara berbagai disiplin ilmu.
  4. Pemadatan kurikulum. Pemberian pembelajaran hanya untuk kompetensi/materi yang belum diketahui peserta didik. Dengan demikian tersedia waktu bagi peserta didik untuk memperoleh kompetensi/materi baru, atau bekerja dalam proyek secara mandiri sesuai dengan kapasitas maupun kapabilitas masing-masing.



Sumber :
Depdiknas. 2008. Sistem Penilaian KTSP: Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pengayaan.

Sabtu, 25 April 2020

Kegiatan Remedial

TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
Tentang
Kegiatan Remedial



Disusun Oleh:
MILA KURNIA
(1820097)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing
Yessi Rifmasari,M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA 
PADANG
2020


A. Pengertian Pembelajaran Remedial

Pembelajaran Remedial adalah pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai ketuntasan pada KD tertentu, dengan menggunakan berbagai metode yang diakhiri dengan penilaian untuk mengukur kembali tingkat ketuntasan belajar peserta didik.

Pada hakikatnya, semua peserta didik akan dapat mencapai standar kompetensi yang ditentukan, hanya waktu pencapaiannya yang berbeda. Oleh karenanya perlu adanya program pembelajaran remedial (perbaikan).

Menurut Sobri (2009 :164) pembelajaran remedial adalah suatu bentuk  pembelajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan supaya menjadi lebih baik. Proses pembelajaran ini bersifat lebih khusus karena disesuaiakan dengan jenis dan sifat kesulitan belajar yang dihadapi siswa. Proses bantuan lebih ditekan kan pada usaha perbaikan cara-cara belajar, cara membelajarkan,  penyesuaian materi pelajaran, penyembuhan segala hambatan yang dihadapi. Jika  penulis dapa simpulkan sementara, bahwa sistem remedial itu merupakan cara yang dilakukan guru dalam membantu siswa yang tidak mencapai ketuntasan/ keberhasilan pembelajaran setelah melakukan diagnostis terlebih dahulu.

B. Tujuan Pembelajaran Remedial

Tujuan umum pembelajaran remedial adalah agar setiap siswa dapat mencapai prestasi belajar sesuai dengan tujuan pembelajaran sebagaimana yang ditetapkan sebelumnya. Dengan pemebelajaran remedial ini diaharapkan agar siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan melalui penyembuhan atau perbaikan. Bagi saya ini merupakan kebaikan guru dan ketulusan guru atau pun tenaga kepndidikan untuk membantu semua siswa supaya mereka bisa mencapai tujuan mereka.

C. Fungsi Pembelajaran Remedial

1. Fungsi korektif, fungsi korektif ini berarti bahwa melalui pengajaran remedial dapat dilakukan pembetulan atau perbaikan terhadap hal-hal yang dipandang belum memenuhi apa yang diharapkan dalam keseluruhan proses pembelajaran.

2. Fungsi pemahaman, dengan pengajaran remedial memungkinkan guru, siswa, atau pihak-pihak lainnya akan dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik dan komprehensif mengenai pribadi siswa.

3. Fungsi penyesuaian, pengajaran remedial dapat membentuk siswa untuk bisa beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan lingkungannya (proses belajarnya). Artinya, siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya sehingga peluang untuk mencapai hasil yang lebih baik semakin besar.

4. Fungsi pengayaan, pengajaran remedial akan dapat memperkaya proses pembelajaran, sehingga materi yang tidak disampaikan dalam pengajaran regular, akan dapat diperoleh melalui pengajaran remedial.

5. Fungsi akselerasi, dengan pengajaran remedial akan dapat diperoleh hasil belajar yang lebih baik dengan menggunakan waktu yang efektif dan efisien.

6. Fungsi terapeutik, ini berarti bahwa secara langsung atau tidak, pengajaran remedial akan dapat membantu menyembuhkan atau memperbaiki kondisi-kondisi kepribadian siswa yang diperkirakan menunjukkan adanya penyimpangan.

D. Prinsip-Prinsip pembelajaran Remedial

Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran remedial sesuai dengan sifatnya sebagai pelayanan khusus antara lain:

a.    Adaptif
Pembelajaran remedial hendaknya memungkinkan peserta didik untuk belajar sesuai dengan daya tangkap, kesempatan, dan gaya belajar masing-masing.

b.    Interaktif
Pembelajaran remedial hendaknya melibatkan keaktifan guru untuk secara intensif berinteraksi dengan peserta didik dan selalu memberikan monitoring dan pengawasan agar mengetahui kemajuan belajar peserta didiknya.

c.  Fleksibilitas dalam Metode Pembelajaran dan Penilaian
Pembelajaran remedial perlu menggunakan berbagai metode pembelajaran dan metode penilaian yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.

d. Pemberian Umpan Balik Sesegera Mungkin
Umpan balik berupa informasi yang diberikan kepada peserta didik mengenai kemajuan belajarnya perlu diberikan sesegera mungkin agar dapat menghindari kekeliruan belajar yang berlarut-larut.

e.     Pelayanan Sepanjang Waktu
Pembelajaran remedial harus berkesinambungan dan programnya selalu tersedia agar setiap saat peserta didik dapat mengaksesnya sesuai dengan kesempatan masing-masing.

E. Metode Dalam Pembelajaran Remedial

Metode yang digunakan dalam pengajaran remedial yaitu metode yang dilaksanakan dalam keseluruhan kegiatan bimbingan belajar mulai dari tingkat identifikasi kasus sampai dengan tindak lanjut. Metode yang dapat digunakan , yaitu :

1.      Tanya Jawab
Metode ini digunakan dalam rangka pengenalan kasus untuk mengetahui jenis dan sifat kesulitan siswa. Tanya jawab dapat dilakukan secara individual maupun secara kelompok.
Dalam rangka perbaikan serangkaian tanya jawab dapat membantu siswa dalam memahami dirinya, mengetahui kelebihan/kekurangannya, dan memperbaiki cara belajarnya.

2.      Diskusi
Metode ini digunakan dengan memanfaatkan interaksi antar-individu dalam kelompok untuk memperbaiki kesulitan belajar yang dialami oleh sekelompok siswa. 

3.      Tugas
Metode ini dapat digunakan dalam rangka mengenal kasus dan pemberian bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar. Dengan metode ini, siswa diharapkan dapat lebih memahami dirinya, dapat memperdalam materi yang telah dipelajari, dan dapat memperbaiki cara-cara belajar yang pernah dialami.

4.      Kerja Kelompok
Metode ini hampir bersamaan dengan pemberian tugas dan diskusi. Yang terpenting adalah interaksi di antara anggota kelompok dengan harapan terjadi perbaikan pada diri siswa yang mengalami kesulitan belajar.

5.      Tutor
Tutor adalah siswa sebaya yang ditugaskan untuk membantu temannya yang mengalami kesulitan belajar, karena hubungan antara teman umumnya lebih dekat dibandingkan hubungan guru dengan siswa. Pemilihan tutor ini berdasarkan prestasi, hubungan sosial yang baik, dan cukup disenangi oleh teman-temannya. Tutor berperan sebagai pemimpin dalam kegiatan kelompok sebagai pengganti guru.

6.      Pengajaran Individual
Pengajaran individual adalah interaksi antara guru dengan siswa secara individual dalam proses belajar mengajar. Pendekatan dengan metode ini bersifat teraputik, artinya mempunyai sifat penyembuhan dengan cara memperbaiki cara-cara belajar siswa. Hasil yang diharapkan dalam metode ini di samping adanya perubahan prestasi belajar juga perubahan dalam pemahaman diri siswa.


F. Prosedur Dalam Pelaksanaan Pembelajaran Remedial

Dalam melaksanakan kegiatan remedial sebaiknya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :

a. Analisis Hasil Diagnosis
Diagnosis kesulitan belajar adalah suatu proses pemeriksaan terhadap siswa yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. Melalui kegiatan diagnosis guru akan mengetahui para siswa yang perlu mendapatkan bantuan. Untuk keperluan kegiatan remedial, tentu yang menjadi fokus perhatian adalah siswa-siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar yang ditunjukkan tidak tercapainya kriteria keberhasilan 80%, maka siswa yang dianggap berhasil.
Setelah guru mengetahui siswa-siswa mana yang harus mendapatkan remedial, informasi selanjutnya yang harus diketahui guru adalah topik atau materi apa yang belum dikuasai oleh siswa tersebut. Sebelum merancang kegiatan remedial, terlebih dahulu harus mengetahui mengapa siswa mengalami kesulitan dalam menguasai materi pelajaran.

b. Menyusun Rencana Kegiatan Remedial
Setelah diketahui siswa-siswa yang perlu mendapatkan remedial, topik yang belum dikuasai setiap siswa, serta faktor penyebab kesulitan, langkah selanjutnya adalah menyusun rencana pembelajaran. Sama halnya pada pembelajaran pada umumnya, komponen-komponen yang harus direncanakan dalam melaksanakan kegiatan remedial adalah sebagai berikut;

  1. Merumuskan indikator hasil belajar
  2. Menentukan materi yang sesuai engan indikator hasil belajar
  3. Memilih strategi dan metode yang sesuai dengan karakteristik siswa
  4. Merencanakan waktu yang diperlukan
  5. Menentukan jenis, prosedur dan alat penilaian.

c. Melaksanakan Kegiatan Remedial
Setelah kegiatan perencanaan remedial disusun,langkah berikutnya adalah melaksanakan kegiatan remedial. Sebaiknya pelaksanaan kegiatan remedial dilakukan sesegera mungkin, karena semakin cepat siswa dibantu mengatasi kesulitan yang dihadapinya, semakin besar kemungkinan siswa tersebut berhasil dalam belajarnya.

d. Menilai Kegiatan Remedial
Untuk mengetahui berhasil tidaknya kegiatan remedial yang telah dilaksanakan, harus dilakukan penilaian. Penilaian ini dapat dilakukan dengan cara mengkaji kemajuan belajar siswa.Apabila siswa mengalami kemauan belajar sesuai yang diharapkan, berarti kegiatan remedial yang direncanakan dan dilaksanakan cukup efektif membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Tetapi, apabila siswa tidak mengalami kemajuan dalam belajarnya berarti kegiatan remedial yang direncanakan dan dilaksanakan kurang efektif.

Sumber :
Boon, R. (2005) Remediation of reading, spelling, and comprehension. Sydney: Harris Park
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Panduan Teknis Pembelajaran Remedial dan Pengayaan di Sekolah Dasar. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Jumat, 10 April 2020

Keterampilan dasar mengajar 2


TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
Tentang
Keterampilan Dasar Mengajar 2



Disusun Oleh:
MILA KURNIA
(1820097)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing
Yessi Rifmasari,M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
 SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2020



Keterampilan dasar mengajar adalah keterampilan yang harus dimiliki setiap guru agar proses pembelajarannya berjalan dengan efektif dan bermanfaat. Adapun beberapa keterampilan dalam mengajar yaitu:

1. Keterampilan Membuka dan Menutup pelajaran
           
            Membuka pelajaran merupakan langkah awal seoarang guru dalam kegiatan belajar mengajar. Kegiatan membuka pembelajaran didefinisikan sebagai alat atau proses yang memasukkan peserta didik ke dalam keadaan penuh perhatian dan belajar' (Brown 1991:98 dalam Mukminan 2013:211). Dengan demikian secara teknis, kegiatan membuka pembelajaran diartikan sebagai aktivitas pengajar untuk menciptakan suasana siap rnental dan menimbulkan perhatian peserta didik agar terpusat kepada apa yang akan dipelajari. Sedangkan kegiatan menutup pembelajaran dapat didefinisikan sebagai pengarahan perhatian peserta didik ke pada penyelesaian tugas tertentu atau urutan kegiatan pembelaiaran. Kegiatan menutup pembelajaran merupakan kegiatan memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang dipelajari peserta didik, mengetahui tingkat pencapaian peserta didik dan tingkat keberhasilan pengajar dalam proses pembelajaran.
            Yang dimaksud dengan membuka pelajaran (set induction) ialah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar untuk menciptakan prokondusi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat pada apa yang akan dipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek yang positif terhadap kegiatan belajar. Sedangkan menutup pelajaran (closure) ialah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran atau kegiatan belajar mengajar.
            Jadi dapat diketahui bahwa kegiatan membuka dan menutup pembelajaran tidak mencakup kegiatan rutin yang dilakukan pengajar seperti: menunggu tanda bel, mengucapkan salam, mengecekkehadiran peserta didik menyiapkan alat peraga, dan sebagainya, tetapi merujuk pada kegiatan yang terkait langsung dengan perubahan perilaku peserta didik
            Komponen keterampilan membuka pelajaran meliputi: menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberi acuan melalui berbagai usaha, dan membuat kaitan atau hubungan di antara materi-materi yang akan dipelajari. Komponen keterampilan menutup pelajaran meliputi: meninjau kembali penguasaan inti pelajaran dengan merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan, dan mengevaluasi.

Dalam membuka pelajaran guru haruslah:
(1) Menarik perhatian siswa: beberapa cara yang digunakan guru untuk menarik perhatian siswa antara lain dengan variasi gaya mengajar, penggunaan alat bantu mengajar dan pola interaksi yang bervariasi.
(2) Menimbulkan motivasi: dengan cara menunjukan kehangatan dan keantusiasan menimbulkan rasa ingin tahu, mengemukakan ide-ide yang bertentangan dan memperhatikan minat siswa.
(3) Memberikan acuan: usaha memberikan gambaran yang jelas kepada siswa mengenai yang akan dipelajari dengan cara mengemukakan secara spesifik dan singkat. Antara lain dengan mengemukakan kompetensi dasar, indikator hasil belajar.
(4) Membuat kaitan: bahan pengait sangat penting digunakan bila guru ingin memulai pelajaran baru. Antara lain mencari batu loncatan dari pengetahuan yang dimiliki siswa, guru membandingkan atau mempertentangkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah diketahui siswa, mengusahakan kesinambungan pelajaran yang lalu dengan sekarang.

Sedangkan dalam menutup pelajaran guru haruslah:
(1) Meninjau kembali dengan cara merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan.
(2) Mengevaluasi dengan berbagai bentuk evaluasi, misalnya mendemonstrasikan keterampilan, meminta siswa mengaplikasikan ide baru dalam situasi yang lain, mengekspresikan pendapat siswa sendiri, dan memberikan soal-soal tertulis serta mengekspresikan ide baru dalam situasi lain, soal tertulis.
(3) Memberi dorongan psikologi atau sosial.
(4) Interaksi guru dengan siswa saling menghargai dan memberikan dorongan psikologi dan sosial dengan memuji hasil yang dicapai, mengingatkan pentingnya materi, memberi harapan positif, meningkatkan percaya diri siswa akan potensi diri.

Tujuannya:
a. Membuka Pembelajaran bertujuan untuk:
1) Memusatkan perhatian dan membangkitkan motivasi peserta didik terhadap tugas-tugas yang harus dilakukan.
2) Menginformasikan cakupan materi yang akan dipelajari dan batas-batas tugas yang akan dikerjakan peserta didik.
3) Memberikan gambaran mengenai metode atau pendekatan-pendekatan yang akan digunakan maupun kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan peserta didik.
4) Melakukan apersepsi, yakni mengaitkan materi yang telah dipelajari dengan yang akan dipelajari.

b. Menutup pembelajaran
1) Untuk mengetahui tingkat keberhasilan peserta didik dalam pencapaian kompetensi.
2) Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pengajar dalam melaksanakan kegiatan pembelaiaran.
3) Membuat rantai kompetensi antar kompetensi yang sekarang sedang dipelajari dan kompetensiserta materi pada kegiatan yang akandatang.
4) Menjelaskan hubungan antara pengalaman belajar yang telah dialami dengan pengalaman baru yang akan dialami/dipelajari pada kegiatan yang akan datang.


2. Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
           
            Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan, atau pemecahan masalah. Diskusi kelompok merupakan strategi yang memungkinkan siswa menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui satu proses yang memberi kesempatan untuk berpikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif. Dengan demikian diskusi kelompok dapat meningkatkan kreativitas siswa, serta membina kemampuan berkomunikasi termasuk di dalamnya keterampilan berbahasa.


3. Keterampilan Mengelola Kelas

            Menurut Mukminan (2013:225) Mengelola kelas dapat diartikan sebagai upaya menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal terkait dengan proses pembelajaran. Seadangkan keterampilan mengelola kelas berarti kemampuan pengajar menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimai. Kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika pengajar mampu mengatur peserta didik dan sarana-prasarana pembelajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Dengan pengelolaan keias yang baik diharapkan akan tercipta kondisi belajar yang optimal bagi peserta didik dan mengembalikan ke kondisi belajar yang optimal apabila terdapat gangguan dalam proses pembelajaran.
           
Tujuannya:
a. Mendorong peserta didik mengembangkan tanggung jawab individual terhadap perilaku nya.
b. Membantu peserta didik mengerti arah perilaku yang sesuai.
c. Menimbulkan rasa tanggung jawab pada setiap peserta didik dalam tugas dan berperilaku positif.

Komponennya:
Keterampilan mengelola kelas yang perlu dikuasai pengajar adalah:
1) memberikan petunjuk yang jelas pada setiap kegiatan pembelajaran
2) mengarahkan perilaku pada pencapaian kompetensi secara optimal
3) mengelola kelompok, baik dalam bentuk kelompok kecil, sedang maupun besar
4) menuntui tanggung jawab peserta didik secara individual maupun kelompok
5) membagi perhatiansecara merata ke seluruh kelas
6) menunjukkan sikap tanggap terhadap permasalahan peserta didik
7) menegur peserta didikyang berperilaku negatif
8) memberikan penguatan bagi yang berhasil melakukan perilaku positif
9) menemukan dan memecahkan perilaku yang menimbulkan rnasalah.


Prinsip penggunaannya:
a. Menekankan pada perilakuyang positif, penanaman disiplin, dan tanggung jawab
b. Hindari pemberian informasi yang berlebihan, ketidaktepatan memulai dan mengakh kegiatan, berkepanjangan (bertele-tele) dalam pemecahan permasalahan, daseringnya memberikan penjelasan yang tidak relevan dengan materi pembahasan.


4. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perseorangan

            Secara fisik bentuk pengajaran ini ialah berjumlah terbatas, yaitu berkisar antara 3-8 orang untuk kelompok kecil, dan seorang untuk perseorangan. Pengajaran kelompok kecil dan perseorangan memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap siswa serta terjadinya hubungan yang lebih akrab antara guru dan siswa dengan siswa. Komponen keterampilan yang digunakan adalah keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi, keterampilan mengorganisasi, keterampilan membimbing dan memudahkan belajar dan keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
            Dari kompetensi yang telah dijelaskan di atas, yang paling penting bagi guru adalah bagaimana cara guru dapat menggunakan agar proses pembelajaran dapat berjalan baik. Salah satu faktor yang dapat mengukur proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik, makin banyaknya jumlah siswa bertanya.




DAFTAR RUJUKAN

Cucun Sunaengsih, Deden Tantang Surya. 2018. Pembelajaran Migro. Sumedang: UPI    Sumedang Press

Mukminan, dkk. 2013. Modul Pelatihan Pengembangan Keterampilan Dasar Teknik Intruksional (PEKERTI). Yogyakarta : Universitas Negri Yogyakarta.

Rusman. 2017. Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana