Sabtu, 21 Maret 2020

Keterampilan Dasar Mengajar 1

TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
Tentang
Keterampilan Dasar Mengajar 1



Disusun Oleh:
MILA KURNIA
(1820097)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing
Yessi Rifmasari,M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
 SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2020


 KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
     Menurut hasil penelitian ( Turney, 1979), terdapat 8 keterampilan dasar mengajar yang dianggap berperan penting dalam  menentukan keberhasilan pembelajaran. Keterampilan yang dimaksud adalah sebagai berikut.

1.      Keterampialan Bertanya

G. A. Brown dan R. Edmodson. 1984 ( dalam Anitah Sri 2007: 7.6) mendefenisikan pertanyaan adalah “segala pernyataan yang menginginkan tanggapan verbal (lisan)”. Pada umumnya, tujuan bertanya adalah untuk memperoleh informasi. Namun, keiatan bertanya yang dilakukan oleh guru, tidak hanya bertujuan untuk memperoleh informasi, tetapi juga untuk meningkatkan terjadinya interaksi antara guru dengan peserta didik dan antara peserta didik dengan peserta didik. Dengan demikian, pertanyaan yang diajukan guru tidak semata-mata bertujuan mendapatkan informasi tentang pengetahuan peserta didiknya, tetapi yang jauh lebih penting adalah untuk mendorong para peserta didik berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Ada 4 alasan mengapa seorang guru perlu menguasai keterampilan bertanya, karena:
1. Guru cenderung mendominasi kelas dengan ceramah
2. Peserta didik belum terbiasa mengjukan pertanyaan
3. Peserta didik harus dilibatkan secara mental-intelektual secara maksimal
4. Adanya anggapan bahwa pertanyaan hanya berfungsi untuk menguji pemahaman
    peserta didik.
Turney. 1979  ( dalam Anitah Sri 2007: 7.7) pertanyaan yang baik mempunyai
berbagai fungsi antara lain:
1. Membangkitkan minat dan keinginantahuan pserta didik tentang suatu topic.
2. Memusatkan perhatian pada masalah tertentu
3. Menggalakkan penerapan belajar aktif
4. Merangsang peserta didik mengjukan pertanyaan sendiri
5. Menstrukturkan tugas-tugas  hingga kegiatan belajar dapat berlangsung secara
    maksimal.
6. Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik.
7. Mengkomunikasikan dan merealisasikan bahwa semua peserta didik harus
    terlibat
8. Menyediakan kesempatan bagi peserta didik untuk mendemonstrasikan
   pemahamannya tentang informasi yang diberikan.
9. Melibatkan peserta didik dalam memanfaatkan kesimpulan yang dapat
   mendorong mengembangkan proses berfikir.
10. Mengembangkan kebiasaan menanggapi pernyataan teman atau pernyataan
      guru.
11. Memberi kesempatan untuk belajar berdiskusi.
12. Membantu peserta didik menyatakan perasaan dan pikiran yang murni.
     Pada dasarnya, keterampilan bertanya dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjut. Keterampilan bertanya dasar terdiri atas komponen-komponen: a) Pengajuan pertanyaan secara jelas dan singkat, b) pemberian acuan, c) pemusatan, d) pemindahan giliran, e) penyebaran, f) pemberian waktu berfikir, g) pemberian tuntunan.
     Keterampilan bertanya lanjutan terdiri atas komponen-komponen: a) pengubahan tuntutan kognitif dalam menjawab pertanyaan, b) pengaturan urutan pertanyaan, c). penggunaan pertanyaan pelacak, d) peningkatan terjadinya interaksi.
    Dalam menerapkan keterampilan bertanya dasar dan lanjut, guru perlu memperhatikan perinsip-prinsip: a) kehangatan dan keantusisan, b) Menghindari kebiasaan mengulang pertanyaan sendiri, menjawab pertanyaan sendiri, mengajukan pertanyaan yang mengundang jawaban serempak, mengulangi jawaban peserta didik, mengajukan pertanyaan ganda, dan menunjuk peserta didik sebelum mengajukan pertanyaan, c) Waktu berfikir yang diberikan untuk pertanyaan tingkat lanjut lebih banyak dari yang  diberikan untuk pertanyaan tingkat dasar, d) pertanyaan pokok harus disusun terlebih dahulu, kemudian dinilai sesudah selesai mengajar. 

2. Keterampilan Memberi Penguatan
  
 Penguatan adalah respons yang diberikan terhadap perilaku atau perbuatan yang dianggap baik, yang dapat membuat terulangnya atau meningkatnya perilaku/perbuatan yang dianggap baik tersebut. Dalam kegiatan pembelajaran, penguatan mempunyai peran penting dalam meningkatkan keefektifan kegiatan pembelajaran. Pujian atau respons positif guru terhadap perilaku perbuatan peserta didik yang positif akan membuat peserta didik merasa senang karena dianggap mempunyai kemampuan. Namun sejogyanya, guru sangat jarang memuji perilaku/perbuatan peserta didik yang positif. Yang sering terjadi adalah  guru menegur atau memberi respons negative terhadap perbuatannju t peserta didik yang negative. Oleh karena itu, guru perlu melatih diri sehingga terampil dan terbiasa memberikan penguatan.
    Dalam kaitan dengan kegiatan pembelajaran, tujuan memberi penguatan adalah untuk:
1. Meningkatkan perhatian peserta didik
2. Membangkitkan dan memelihara motivasi peserta didik
3.  Memudahkan peserta didik belajar
4. Mengontrol dan memodifikasi tingkah laku peserta didik serta mendorong mun
     culnya perilaku  yang positif.
5. Menimbulkan rasa percaya diri pada diri peserta didik
6. Memelihara iklim kelas yang kondusif
    Penguatan dapat dibagi menjadi penguatan verbal dan nonverbal. Penguatan verbal diberikan dalam bentuk kata-kata/kalimat pujian, sentuhan, kegiatan yang menyenangkan, serta benda atau simbol.  Penguatan dapat juga diberikan dalam bentuk penguatan tak penuh jika respons/perilaku peserta didik tidak sepenuhnya memenuhi harapan.
    Dalam memberikan penguatan harus diperhatikan prinsip-prinsip berikut:
1. Kehangatan dan keantusisan
2. Kebermaknaan
3. Hindari respons negative
4. Penguatan harus  bervariasi
5. Sasaran penguatan  harus jelas
6. Penguatan harus diberikan segera setelah perilaku yang diharapkan muncul.

3.   Keterampilan Mengadakan Variasi

Variasi adalah keanekaan yang membuat sesuatu tidak menoton. Variasi dapat berwujud perubahan-perubahan atau perbedaan-perbedaan. Yang sengaja diciptakan/dibuat untuk memberikan kesan yang unik. Misalnya model baju yang sama, tetapi berbeda hiasannya akan menimbulkan kesan unik bagi masing-masing model tersebut.
Variasi sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Peserta didik akan menjdi sangat bosan jika guru selalu mengajar dengan cara yang sama. Tidak jarang terjadi adanya peserta didik yang selalu hafal dengan “gaya” mengajar gurunya sehingga ia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh guru. Hal yang demikian, sering dijadikan bahan permainan yang disampaikan dengan berbagai kode. Tentu saja keadaan seperti ini, tidak menunjang keefektifan kegiatan pembelajaran di kelas. Untuk menghindari terjadinya hal-hal seperti ini, guru perlu menguasai keterampilan mengadakan variasi.
Variasi di dalam kegiatan pembelajaran bertujuan antara lain untuk hal-hal berikut.
1. Menghilangkan kebosanan peserta didik dalam belajar
2. Meningkatkan motivasi peserta didik dalam mempelajari sesuatu
3. Mengembangkan keinginan peserta didik untuk mengetahui dan menyelidiki hal-hal
    Baru
4. Melayani gaya belajar peserta didik yang beraneka ragam
5. Meningkatkan kader keaktifan/keterlibatan  peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.
   Komponen keterampilan mengadakan vriasi dibagi menjadi 3 kelompok sebagai berikut.
a. Variasi dalam gaya mengajar yang meliputi variasi suara, pemusatan perhatian,
    kesenyapan, pergantian posisi guru, kontak pandang, serta gerakan badan dan mimik.
b. Variasi didengar, dilihat, dan interaksi dan kegiatan
c. Variasi penggunaan alat bantu pelajaran yang meliputi alat/bahan yang dapat
    dimanipulasi.

4.   Keterampilan Menjelaskan

Istilah menjelaskan sering dikacaukan dengan menceriterakan. Misalnya pengalaman berkelana ke berbagai daerah yang diceriterakan kepada orang lain sering dianggap sebagai kegiatan menjelaskan. Dari segi etimologis, kata menjelaskan “mengandung makna “membuat sesuatu menjadi jelas”. Dalam kegiatan menjelaskan terkandung makna pengkajian informasi secara sistematis sehingga yang menerima penjelasan mempunyai gambaran yang jelas tentang hubungan informasi yang satu denga yang lain.
Komponen keterampilan menjelaskan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:
Merencanakan materi penjelasan yang mencakup:
Menganalisis masalah
Menentukan hubungan
Menggunakan hokum, rumus, dan generalisasi yang sesuai
2. Menyajikan penjelasan yang mencakup:
    a. kejelasan, yaitu keterampilan yang erat kaitannya dengan penggunaan bahasa lisan
    b. penggunaan contoh dan ilustrasi, yang dapat dilakukan dengan pola induktif atau
        deduktif.
pemberian tekanan yang dapat dilakukan dengan berbagai variasi gaya mengajar dan membuat struktur sajian
balikan, yang bertujuan untuk mendapat informasi tentang tingkat pemahaman peserta didik, baik melalui pertanyaan maupun melalui tugas.
      Penjelasan dapat diberikan pada awal, tengah, dan akhir pelajaran, dengan selalu memperhatikan karakteristik peserta didik yang diberi penjelasan serta materi/masalah yang dijelaskan.

Hakikat Media Pembelajaran


TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
Tentang
Hakikat Media Pembelajaran



Disusun Oleh:
MILA KURNIA
(1820097)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing
Yessi Rifmasari,M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
 SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA 
PADANG
2020




A. HAKIKAT, FUNGSI, DAN PERANAN MEDIA PEMBELAJARAN

Menurut Heinich, dkk (1993) media merupakan alat saluran komunikasi. Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata ”medium” yang secara harfiah berarti ”perantara”, yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan penerima pesan (a receiver), seperti film, televisi, diagram, bahan tercetak, komputer, dan instruktur. Dalam proses pembelajaran terdapat pesan-pesan yang harus dikomunikasikan. Pesan tersebut biasanya merupakan isi dari suatu topik pembelajaran. Pesan-pesan ini disampiakan oleh guru kepada siswa melalui suatu media dengan menggunakan prosedur pembelajaran tertentu yang disebut metode.
Media pembelajaran pada hakikatnya merupakan saluran atau jembatan dari pesan-pesan pembelajaran (message) yang disampaikan oleh sumber pesan (guru) kepada penerima pesan (siswa) dengan maksud agr pesan-pesan tersebut dapat diserap dengan cepat dan tepat sesuai dengan tujuannya.

Fungsi utama media pembelajaran, yaitu sebagai sarana banru untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang lebih efektif. Dengan fungsi itu, media pembelajaran harus dijadikan bagian integral dari keseluruhan proses pembelajran itu sendiri. Dalam penggunannya bahan ajar, tidak diperkenankan menggunaknnya hanya sekadar untuk permainan atau memancing perhatian siswa semata. Fungsi lain yaitu untuk mempercepat proses belajar sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan mengurangi verbalisme (salah penafsiran). 

Guru dapat lebih mengefektifkan pencapaian kompetensi/tujuan pembelajran melalui penggunaan media secara optimal, sebab media ini memiliki nilai ini memiliki nilai dan manfaat yang sangat menguntungkan, diantaranya:
1). Membuat konkret konsep-konsep yang abstrak.
2). Menghadirkan objek-objek yang terlalu berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan belajar.
3). Menampilkan objek yang terlalu besar atau kecil.
4). Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat atau lambat.

B. JENIS DAN KARAKTERISTIK MEDIA PEMBELAJARAN

Jenis Media Pembelajaran

Berbagai sudut pandang untuk menggolongkan jenis-jenis media. Menggolongkan media berdasarkan tiga unsur pokok (suara, visual dan gerak):
1. Media audio
2. Media cetak
3. Media visual diam
4. Media visual gerak
5. Media audio semi gerak
6. Media visual semi gerak
7. Media audio visual diam
8. Media audio visual gerak

Anderson (1976) menggolongkan menjadi 10 media:
1. Audio: Kaset audio, siaran radio, CD, telepon
2. Cetak: buku pelajaran, modul, brosur, leaflet, gambar
3. Audio-cetak: kaset audio yang dilengkapi bahan tertulis
4. Proyeksi visual diam: Overhead transparansi (OHT), film bingkai (slide)
5. Proyeksi audio visual diam : film bingkai slide bersuara
6. Visual gerak: film bisu
7. Audio visual gerak: film gerak bersuara, Video/VCD, Televisi
8. Objek fisik: Benda nyata, model, spesimen
9. Manusia dan lingkungan: guru, pustakawan, laboran
10. Komputer: CAI

Karakteristik Media Pembelajaran

Secara garis besar, unsur-unsur yang terdapat pada media visual terdiri dari garis, bentuk, warna, dan tekstur (Arsyad, 1997). Untuk memberi kesan penekanan, juga untuk membangun kemenarikan dan keterpaduan, bahkan dapat mempertinggi realisme dan menciptakan respon emosional diperlukan warna. Sementara, tekstur digunakan untuk menimbulkan kesan kasar dan halus, juga untuk menambah penekanan sebagaimana halnya warna.
Dalam mengembangkan sebuah media pembelajaran, perlu diperhatikan beberapa prinsip agar media tersebut memberikan pengaruh efektif dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Meyer (2009) menyebutkan sepuluh prinsip,yang secara rinci tercantum dalam bukunya “Multimedia Learning”. 

C. PEMILIHAN, PENGGUNAAN DAN PERAWATAN MEDIA PEMBELAJARAN SEDERHANA

1. Pemilihan Media Pembelajaran (Media Selection)
Terdapat 3 hal yang perlu dijadikan pertimbangan dalam pemilihan media pembelajaran, yaitu :
1. Tujuan pemilihan pembelajaran
Memilih media yang akan digunakan harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihan yang jelas. Apakah digunakan untuk kegiatan pembelajaran atau pemberian informasi yang sifatnya umum atau sekedar hiburan saja ? jika digunakan untuk kegiatan pembelajaran, apakah untuk pembelajaran yang sifatnya individual atau kelompok tujuan pemilihan sangat berkaitan dengan kemampuan dalam menguasai berbagai jenis media pembelajaran berserta karakteristiknya.
2. Karakteristik media pembelajaran
Setiap media pembelajaran memiliki karakteristik tetentu, dilihat dari segi ke andalanya, cara pembuatannya, maupun cara penggunaanya. Pemahaman terhadap karakterisitik berbagai media pembelajaran merupakan kemampuan dasar yang perlu dimiliki dalam kaitannya dengan pemilihan media pembelajaran ini. Selain itu, kemampuan ini memberikan kemungkinan untuk menggunakan berbagai jenis media pembelajaran secara variasi. Apabila kurang memahami karakteristik tersebut maka akan dihadapkan pada kesulitan-kesulitan dan cenderung spekulatif.
3.  Alternatif media pembelajaran yang dapat dipilih
Memilih media pada dasarnya merupakan proses menganbil atau menentukan keputusan dari berbagai pilihan yang ada. Supaya media pembelajaran yang dipilih itu tepat, selain harus mempertimbangkan ketiga hal tersebut, perhatikan pula beberapa faktor berikut :
a.  Rencana pembelajaran
b.  Sasaran belajar
c.  Tingkat keterbacaan media
d.  Situasi dan kondisi
e.  Objektivitas

2. Penggunanaan Media Pembelajaran
     Media pembelajaran yang telah dipilih agar dapat digunakan secara efektif dan efisien perlu menempuh langkah-langkah secara sistematis. Ada tiga langkah yang pokok yang dapat dilakukan yaitu persiapan, pelaksanaan/penyajian, dan tindak lanjut.
1.      Persiapan
Persiapan maksudnya kegiatan dari seorang tenaga pengajar yang akan mengajar dengan menggunakan media pembelajaran. 
2.      Pelaksanaan/Penyajian
Tenaga Pengajar pada saat melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran perlu mempertimbangkan seperti:
a. Yakinkan bahwa semua media dan peralatan telah lengkap dan siap untuk digunakan.
b. Jelaskan tujuan yang akan dicapai,
c. Jelaskan lebih dahulu apa yang harus dilakukan oleh peserta didik selama proses pembelajaran,
d. Hindari kejadian-kejadian yang sekiranya dapat mengganggu perhatian/konsentrasi, dan ketenangan  peserta didik.
3.      Tindak lanjut
Kegiatan ini perlu dilakukan untuk memantapkan pemahaman peserta didik tentang materi yang dibahas dengan menggunakan media. Disamping itu kegiatan ini dimaksudkan untuk mengukur efektivitas pembelajaran yang telah dilakukannya. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan diantaranya diskusi, eksperimen, observasi,  latihan dan tes.

 Pemeliharaan Media Pembelajaran
       Agar media pembelajaran yang telah dibuat dapat terpelihara dengan baik dan digunakan berkali-kali dalam waktu relatif lama maka perlu pemeliharan dan perawatan. Berikut cara praktif dalam memelihara dan merawat media pembelajaran sederhana tanpa harus mengeluarkan biaya banyak tanpa biaya sedikitpun, antara lain :
1.  Media grafis, seperti bagan, diagram, grafik, poster, dan kartun yang dibuat dengan ukuran besar, diberi bingkai pada bagian atas dan bawah. Cara menyimpananya tidak digulung atau dilipat supaya media tersebut tidak rusak.
2  Dalam upaya pemeliharan dan kepraktisan dalam penggunaan media grafis diupayakan dengan pembuatan papan penyajian, bisa berupa papan planel, papan bulletin, papan tikar.
3  Apabila pihak sekolah memiliki dana yang memadai sebaiknya disediakan ruang untuk penyimpanan berbagai media pembelajaran, baik yang dibuat guru maupun hasil membeli dari toko sehingga media tersebut awet, tahan lama, dan terpelihara dengan baik.

D. PEMANFAATAN LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR

1.Mengatasi kebosanan dalam belajar
Belajar dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar akan meredakan kebosanan siswa. Mereka akan berhadapan dengan lingkungan dinamis yang berbeda dengan lingkungan kelas yang sempit dan terbatas.
2.Memberikan suasana belajar yang unik bagi siswa
Variasi belajar antara dalam dan di luar kelas akan memberikan suasana yang unik dan mengasyikkan bagi siswa.Ini akan meningkatkan gairah dan motivasi belajar siswa untuk memperdalam materi pelajaran.
3.Kesempatan untuk menerapkan teori
Tidak banyak yang dapat dilakukan di ruang kelas yang sempit jika fasilitas dan sumber belajar tidak memadai selain mencatat berbagai teori-teori disiplin ilmu. Dengan memanfaatkan lingkungan, siswa dapat menguji teori yang diperolehnya dengan mempraktikkan langsung di lingkungannya secara nyata.

4.Siswa dapat belajar mandiri
Belajar di luar kelas sesungguhnya memberi kesempatan kepada siswa  untuk mandiri. Mereka tidak akan banyak tergantung kepada guru untuk menggali ilmu pengetahuan di lingkungannya. Jika anak mandiri maka tugas guru tidak akan semakin berat.

5.Memperluas wawasan berfikir siswa
Memanfaatkan lingkungan sekitarnya sebagai sumber belajar akan memperluas wawasan berfikir siswa tentang alam, sosial dan lingkungan sesungguhnya.

6.Meningkatkan prestasi belajar
Prestasi belajar siswa akan dapat ditingkatkan secara optimal bila memanfaatkan sumber belajar yang mendukung, termasuk lingkungan alam, sosial dan budaya.


Sumber:
Anitah, Sri dkk. 2009. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Herry.H.A. 1991. Pembelajaran Terpadu. Jakarta. Universitas Terbuka.

Pemilihan Metode Mengajar

TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
Tentang
Pemilihan Metode Mengajar



Disusun Oleh:
MILA KURNIA
(1820097)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing
Yessi Rifmasari,M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
 SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA 
PADANG
2020


A.    Hakikat dan Faktor-faktor dalam Pemilihan Metode Mengajar

1. Hakikat Metode Mengajar dalam Pembelajaran
Metode mengajar merupakan salah satu komponen yang harus digunakan dalam kegiatan pembelajaran karena untuk mencapai tujuan pembelajaran maupun dalam upaya membentuk kemampuan siswa diperlukan adanya suatu metode atau cara mengajar yang efektif.
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode mengajar, diantaranya berikut ini :
a. Metode mengajar harus memungkinkan dapat membangkitkan rasa ingin tahu siswa lebih jauh terhadap materi pelajaran
b. Metode mengajar harus memungkinkan dapat memberikan peluang untuk berekspresi yang kreatif dalam aspek seni
c. Metode mengajar harus memungkinkan siswa belajar melalui pemecahan masalah
d. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk selalu ingin menguji kebenaran sesuatu
e. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk melakukan penemuan terhadap suatu topik permasalahan
f.  Metode mengajar harus memungkinkan siswa mampu menyimak
g. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri
h.  Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk belajar secara bekerja sama
i.  Metode mengajar harus memungkinkan siswa unutk lebih termotivasi dalam belajarnya

2.      Faktor-faktor yang Perlu Diperhatikan dalam Pemilihan Metode Mengajar
Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :
a. Tujuan pembelajaran atau kompetensi siswa
Tujuan institusional adalah tujuan yang ingin dicapai oleh suatu lembaga pendidikan. Tujuan bidang studi adalah tujuan yang harus dicapai oleh suatu mata pelajaran atau suatu bidang studi. Tujuan pembelajaran (instruksional) adalah tujuan yang harus dicapai dalam suatu pokok bahasan tertentu.
Tujuan pembelajaran khusus dapat dikatakan sebagai enabling objectives artinya tujuan pembelajaran harus dicapai selama proses pembelajaran berlangsung, sedangkan tujuan pembelajaran umum dapat dikatakan sebagai target objectives yang artinya tujuan pembelajaran tersebut dapat dicapai setelah pembelajaran selesai (Gagne, 1978 : 97).
b.      Karakteristik Bahan Pelajaran/Materi Pelajaran
Beberapa aspek yang terdapat dalam materi pelajaran, yaitu :
(1)   Aspek konsep, merupakan substansi isi pelajaran yang berhubungan dengan pengertian, atribut, karakteristik, label atau ide dan gagasan tertentu
(2)   Aspek fakta, merupakan substansi isi pelajaran yang berhubungan dengan peristiwa yang lalu, data yang memiliki esensi objek dan waktu
(3)   Aspek prinsip, merupakan substansi isi pelajaran yang berhubungan dengan aturan, dalil, hukum, ketentuan dan prosedur yang harus ditempuh
c.       Waktu yang digunakan
Pemilihan metode mengajar juga harus memperhatikan alokasi waktu yang tersedia dalam jam pelajaran.
d.      Faktor siswa
Aspek yang berkaitan dengan faktor siswa terutama pada aspek kesegaran mental, jumlah siswa dan kemampuan siswa. Guru harus bisa mengelola pembelajaran berdasarkan jumlah siswa dan harus mengatur tempat duduk supaya sesuai dengan kondisi siswa dalam belajar.
e.       Fasilitas, media, dan sumber belajar
menggunakan alat atau fasilitas maka guru bersangkutan sebelum pembelajaran harus mempersiapkan terlebih dahulu. media pesan lisan harus dapat dipahami siswa sehingga siswa tidak menimbulkan verbalisme.

B.     Jenis-jenis Metode Mengajar

Metode mengajar merupakan cara yang digunakan guru dalam membelajarkan siswa agar terjadi interaksi dan proses belajar yang efektif dalam pembelajaran. Setiap metode mengajar memiliki keunggulan dan kekurangan sehingga hal tersebut dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih metode tersebut. Kelemahan-kelemahan suat metode harus diantisipasi dan dikaji oleh guru agar dalam penggunaannya dapat efektif.
1.      Metode Ceramah (Lecture)
Metode ceramah merupakan suatu cara penyajian bahan atau penyampaian bahan ajaran secara lisan dari guru. Ceramah yang baik adalah ceramah bervariasi artinya ceramah yang dilengkapi dengan penggunaan alat dan media serta adanya tambahan dialog interaktif atau diskusi sehingga proses pembelajaran tidak menjenuhkan.
2.      Metode Diskusi
Metode mengajar diskusi merupakan cara mengajar yang dalam pembahasan dan penyajian materinya melalui suatu problema atau pertanyaan yang harus diselesaikan berdasarkan pendapat atau keputusan secara bersama.
3.      Metode Simulasi (Simulation)
Proses pembelajaran yang menggunakan simulasi cenderung objeknya bukan benda atau kegiatan yang sebenarnya, melainkan kegiatan mengajar yang bersifat pura-pura.
Jenis model simulasi diantaranya yaitu, bermain peran (role playing), dalam prosesnya pembelajaran metode ini mengutamakan pola permainan dalam bentuk dramatisasi.
Sosiodrama, dalam pembelajaran yang dilakukan oleh kelompok untuk melakukan aktivitas belajar memecahkan masalah yang berhubungan dengan masalah individu sebagai makhluk sosial
Permainan simulasi (simulation games), dalam pembelajarannya siswa bermain peran sesuai dengan peran yang ditugaskan sebagai belajar membuat suatu keputusan.
4.      Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi merupakan metode mengajar yang menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung objek atau cara melakukan sesuatu sehingga dapat mempelajarinya secara proses. Demonstrasi digunakan semata-mata untuk : (1) mengkonkretkan suatu konsep atau prosedur yang abstrak; (2) mengajarkan bagaimana berbuat atau menggunakan prosedur secara tepat; (3) meyakinkan bahwa alat dan prosedur tersebut bisa digunakan; (4) membangkitkan minat menggunakan alat dan prosedur.
5.      Metode Eksperimen
Eksperimen dimaksudkan bahwa guru dan siswa mencoba mengerjakan sesuatu serta mengamati proses dan hasil pekerjaannya.Setelah eksperimen selesai, siswa ditugaskan untuk membandingkan dengan hasil eksperimen yang lain, dan mendiskusikan bila ada perbedaan dan kekeliruan (Winarno:1980:90).
Setiap kegiatan eksperimen harus dilakukan secara sistemik dan sistematis, yaitu harus dimulai dari perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan kajian hasil. Lebih mendalamnya siswa harus membuat laporan, kemudian disajikan di depan teman-teman yang lain.
6.      Metode Karya Wisata
Pembelajaran karya wisata (field trip) artinya aktifitas belajar siswa dibawa keluar kelas. Karya wisata lebih menitikberatkan pada perjalanan yang relatif jauh dari kelas/sekolah untuk mengunjungi tempat-tempat yang berkaitan dengan topik bahasan yang bersifat umum.
7.      Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah digunakan dalam implementasi pembelajaran terpadu maupun kontekstual karena pembelajaran ini dikembangkan secara integritas antara kemampuan siswa dengan topik bahasan maupun lingkungan.
Metode ini cenderung menggunakan pendekatan kontruktivisme artinya pengetahuan, keterampilan dan sikap akan dikembangkan dan dibangun oleh siswa dibawah bimbingan guru.

C. Hubungan Pengalaman Belajar dengan Metode Mengajar

Pengalaman belajar (learning experience) merupakan suatu proses kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Keterampilan proses merupakan pendekatan belajar – mengajar yang mengarah pada pengembangan kemampuan-kemampuan mental, fisik, dan social yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi dalam diri siswa (Depdikbud 1990:9).
Pengalaman yang diperoleh siswa dalam pembelajaran dapat berupa pengalaman intelektual, emosional, social, fisik-motorik. Perkembangan itu dicapai melalui serentetan pengalaman, yaitu pengalaman mengindera, seperti melihat dan mendengar. Pengalaman berpikir, seperti mengingat dan menyelesaikan persoalan. Pengalaman sosial, seperti berkomunikasi dan bekerja sama. Pengalaman emosional, seperti dihargai dan dikagumi.
Dalam metode ceramah, pengalaman menyimak merupakan pengalaman yang cenderung banyak diperoleh siswa. Disini akan terjadi proses mental yaitu mengerti dan tidak mengerti, diterima dan tidak diterima.
Pembelajaran melalui diskusi yang dilaksanakan secara efektif akan banyak berdampak terhadap pengalaman siswa. Pengalaman yang diperoleh diantaranya yaitu bekerja sama, menjadi pemimpin/anggota kelompok, mengeluarkan ide atau pendapat, berkomunikasi dalam kelompok dan pengalaman menyimpulkan hasil penyelesaian masalah.
Dalam pembelajaran simulasi secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak terhadap pengalaman belajar siswa, diantaranya dalam berinteraksi, berkomunikasi dalam kelompok, bekerja sama dan menilai proses kegiatan simulasi.
Hal yang perlu diperhatikan dalam metode demonstrasi adalah posisi siswa seluruhnya harus dapat memperhatikan terhadap objek yang akan didemonstrasikan. Pengalaman yang diperoleh yaitu memperhatikan prosedur yang sistematis, mempraktikan keterampilan secara proses, menggunakan alat atau bahan yang sebenarnya.
Dalam pembelajaran eksperimen, pengalaman yang diperoleh hamper sama dengan pembelajaran demonstrasi, tetapi dalam eksperimen juga akan diperoleh pengalaman membanding-bandingkan dengan hasil eksperimen yang lain, mendiskusikan apabila ada perbedaan dan kekeliruan, menemukan suatu konsep dan membuktikan secara proses.
Pengalaman yang diperoleh dari pembelajaran karya wisata yaitu bersosialisasi, bekerja sama, berinteraksi, mengamati dan menilai objek. Pengembangan kemampuan dengan pengalaman memecahkan masalah, mengambil keputusan dan menerapkan ide-ide.

Prosedur Pembelajaran

TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
Tentang
Prosedur Pembelajaran




Disusun Oleh:

MILA KURNIA
(1820097)
Kelas: 4.4 PGSD

Dosen Pembimbing
Yessi Rifmasari,M.Pd


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
 SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA 
PADANG

2020



A.    Kegiatan Pra dan Awal Pembelajaran

Kegiatan awal pembelajaran dilaksanakan untuk menciptakan awal pembelajaran yang efektif yang memungkinkan siswa siap mengikuti proses pembelajaran dengan baik.

Guru diharapkan mampu merancang dan melaksanakan kegiatan awal pembelajaran dengan baik. Kegiatan menyiapkan siswa yang langsung berkaitan dengan materi yang akan dibahas disebut kegiatan awal pembelajaran. Sedangkan, kegiatan yang tidak berkaitan langsung dengan materi yang akan dibahas disebut kegiatan pra pembelajaran.

1.      Kegiatan Pra Pembelajaran
Kegiatan pra pembelajaran atau kegiatan prainstruksional adalah kegiatan pendahuluan pembelajaran yang diarahkan untuk menyiapkan siswa mengikuti pelajaran. Kegiatan pra pembelajaran biasanya bersifat umum dan tidak berkaitan langsung dengan kompetensi atau materi yang akan dibahas dalam kegiatan inti pembelajaran.

Upaya yang dapat dilakukan guru pada tahap pra pembelajaran diantaranya adalah:
a. Menciptakan sikap dan suasana kelas yang menarik
b.   Memeriksa kehadiran siswa
c.    Menciptakan kesiapan belajar siswa
d. Menciptakan suasana belajar yang demokratis

2.      Kegiatan Awal Pembelajaran

Kegiatan awal pembelajaran dilaksanakan untuk menyiapkan mental siswa dalam memasuki kegiatan inti pembelajaran, untuk membangkitkan motivasi dan perhatian siswa dalam mengikuti pembelajaran, memberikan gambaran yang jelas tentang batas-batas tugas atau kegiatan yang akan dilaksanakan, dan menunjukkan hubungan antara pengalaman anak dengan materi yang akan dipelajari.

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan guru dalam tahap kegiatan awal pembelajaran :

a. Menimbulkan motivasi dan perhatian siswa
b.   Memberi acuan
c.   Membuat kaitan
d.  Melaksanakan tes awal

B.     Kegiatan Inti Dalam Pembelajaran

Melalui kegiatan inti pembelajaran siswa tidak hanya diharapkan memiliki kemampuan yang merupakan dampak instruksional (langsung berkaitan dengan tujuan pembelajaran yang dirancang sesuai kurikulum) tetapi juga memiliki sikap positif terhadap bahan pelajaran (sebagai dampak pengiring dari kegiatan pembelajaran).

Kegiatan inti pembelajaran hendaknya melibatkan siswa sebanyak mungkin, memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbuat langsung, dan memenuhi kebutuhan siswa baik individual maupun kelompok.

Pembahasan Materi Pelajaran dalam Pembelajaran Klasikal
Kegiatan pembelajaran klasikal cenderung digunakan apabila dalam proses pembelajarannya guru lebih banyak menyajikan materi yang menekankan pada kegiatan pemberian informasi atau penjelasan materi yang belum dipahami siswa.
Alternatif metode yang sering digunakan dalam pembelajaran klasikal adalah metode ceramah dan tanya jawab bervariasi atau metode lain yang dianggap sesuai dengan karakteristik materi pelajaran.
Penggunaan metode ceramah dalam pembelajaran klasikal memungkinkan adanya aktifitas proses mental siswa untuk melihat hubungan antara beberapa materi pelajaran yang sedang dibahas. Penggunaan metode tanya jawab memungkinkan siswa untuk berlatih berpikir sistematis dan logis disamping mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dalam pembelajaran.

a.       Prinsip-prinsip Pembelajaran Klasikal
(1)   Sistematis
Bahan pelajaran harus disajikan secara berurutan dan selalu berorientasi pada tujuan yang telah ditetapkan. Sajian bahan pelajaran dapat disampaikan mulai dari yang mudah sampai pada yang sulit atau dari yang sifatnya konkret sampai pada yang abstrak.
(2)   Perhatian dan aktivitas
Dalam pembelajaran klasikal, guru harus selalu memberikan perhatian terhadap aktivitas siswa secara menyeluruh dalam kelas. Perhatian dan motivasi siswa dalam pembelajaran klasikal sangat memegang peranan penting. Siswa akan tertarik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran apabila kegiatan tersebut menarik dan menyenangkan. Peningkatan perhatian siswa terhadap pembelajaran dapat dikembangkan oleh guru melalui penampilan guru diantaranya dengan variasi suara, gerak, gaya dan seni mengajar.
(3)   Media pembelajaran
Keunggulan penggunaan media pembelajaran adalah dapat mengurangi verbalisme siswa terhadap informasi yang diberikan  oleh guru. Pembelajaran yang dianggap efektif adalah pembelajaran yang berbasis kontekstual. Artinya semua objek yang ada di lingkungan siswa yang dianggap sesuai dengan karakteristik materi dan tujuan pembelajaran dapat digunakan guru menjadi media maupun sumber belajar siswa.
(4)   Latihan atau penugasan
Untuk memantapkan dan memperkuat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran, guru perlu memberikan latihan atau tugas-tugas. Latihan dan tugas yang tidak sesuai dengan kemampuan  siswa akan menjadikan beban bagi siswa dan dapat menyebabkan siswa frustasi sehingga tujuan pemberian latihan dan tugas tidak tercapai.
b.      Kegiatan Inti dalam Pembelajaran Klasikal
Tahapan selanjutnya yang perlu ditempuh dalam kegiatan inti pembelajaran klasikal adalah sebagai berikut.
Pertama, menyajikan (presentasi) bahan pelajaran dengan ceramah bervariasi. Selama menjelaskan guru sebaiknya tidak terus menerus berbicara tetapi selang beberapa menit selalu memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya atau guru sendiri mengajukan pertanyaan kepada siswa.
Kedua, memberikan asosiasi dan memberikan ilustrasi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap bahan pelajaran dengan cara menghubungkan atau mengaitkan materi yang sedang dipelajari dengan situasi nyata atau dengan bahan pelajaran yang lain atau dengan bahan pelajaran yang menggambarkan sebab akibat.


Pembahasan Materi Pelajaran dalam Pembelajaran Kelompok
Pembelajaran kelompok cenderung banyak digunakan dalam pembelajaran dengan pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Berdasarkan teori yang melandasi pembelajaran kelompok, siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang dianggap sulit sebelumnya melalui belajar secara kelompok dan bekerja sama.
Stevens & Slavin (1995) menyatakan bahwa siswa yang belajar dengan mengikuti pembelajaran kelompok/kooperatif selama periode dua tahun ajaran menunjukkan hasil belajar yang lebih baik dibandingkan dengna hasil belajar siswa yang diorganisasikan secara tradisional.
Beberapa metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran kelompok, diantaranya adalah diskusi, kerja kelompok, pemecahan masalah, inkuiri, diskaveri, simulasi dan penelitian sederhana (observasi).
a.    Prinsip-prinsip Pembelajaran Kelompok
(1)   Adanya topik dan permasalahan
Tujuan utama dalam pembelajaran kelompok sesuai dengan esensi pembelajaran kooperatif yaitu membentuk siswa untuk memiliki kemampuan bekerja sama serta memiliki sikap toleransi bertanggung jawab.
Materi pelajaran dalam pembelajaran kelompok diantaranya harus mengandung permasalahan maupun proyek yang harus dipecahkan atau diselesaikan oleh siswa melalui kerja sama.
(2)   Pembentukan kelompok
Semiawan dkk (1987) mengemukakan bahwa berdasarkan pendekatan CBSA, pengelompokan siswa dapat dilakukan berdasarkan kesenangan berkawan, kemampuan, dan minat. Apabila pengelompokkan sudah dilakukan, siswa diminta untuk menentukan ketua kelompok, penulis/sekretaris dan anggota kelompok.
(3)   Kerja sama
Pembelajaran kelompok dilaksanakan untuk mengembangkan kemampuan siswa bekerja sama, rasa solidaritas, rasa toleransi dan rasa tanggung jawab terhadap tugas yang harus dikerjakan dalam kelompok tersebut.
(4)   Perhatian
Selama kegiatan pembelajaran kelompok berlangsung, guru harus memperhatikan siswa secara kelompok sekaligus memperhatikan siswa sebagai individu dalam kelompok.
(5)   Motivasi
Untuk menunjang keberhasilan belajar secara kelompok, guru harus memberikan motivasi dan bimbingan terhadap siswa. Motivasi belajar siswa akan muncul apabila guru dapat memberikan suasana belajar yang kondusif, menyenangkan dan efektif.
(6)   Sumber belajar dan fasilitas
Kelengkapan sumber belajar merupakan salah satu aspek yang memberikan daya dukung yang kuat terhadap keberhasilan belajar kelompom. Ketersediaan sumber belajar dan fasilitas yang diperlukan akan menunjang keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran secara optimal.
(7)   Latihan dan tugas
Untuk memperkuat hasil kerja atau hasil belajar kelompok, guru harus memberikan tugas dan latihan-latihan pada semua siswa secara individu yang diorganisasi secara efektif dalam belajar kelompok.
b.      Kegiatan Inti dalam Pembelajaran Kelompok
Metode yang sering digunakan dalam pembelajaran kelompok diantaranya adalah metode diskusi yang ditunjang oleh metode ceramah dan tanya jawab.
Guru menyampaikan tujuan yang diharapkan dicapai dan topik pembelajaran yang akan dibahas dalam kegiatan kelompok. Kemudian guru mengelompokkan siswa sesuai kriteria yang telah ditentukan dan memberikan penjelasan pada siswa tentang tahapan belajar. Selanjutnya siswa melakukan diskusi sebagai kegiatan inti pembelajaran dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Pertama, merumuskan masalah berdasarkan topik pembahasan dan tujuan pembelajaran. Kedua, mengidentifikasi masalah atau sub-masalah berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan. Ketiga, analisis masalah berdasarkan sub-masalah. Keempat, menyusun laporan oleh masing-masing kelompok. Kelima, presentasi kelompok atau melaporkan hasil diskusi kelompok kecil pada seluruh kelompok dilanjutkan diskusi kelas yang langsung dibimbing oleh guru.
Pada akhir kegiatan, siswa menyimpulan hasil diskusi berdasarkan rumusan masalah dan sub-masalah. Selama kegiatan kelompok berlangsung, guru hendaknya memonitor jalannya kegiatan di masing-masing kelompok dan memberikan bimbingan apabila kelompok mengalami kesulitan mengerjakan tugas kelompok.
Pembahasan Materi Pelajaran dalam Pembelajaran Perseorangan
Kegiatan pembelajaran perseorangan dapat membantu proses pembelajaran yang mengarah pada optimalisasi kemampuan siswa secara individu. Diversifikasi kurikulum merupakan suatu kurikulum yang dapat memperluas, memperdalam dan menyesuaikan dengan keragaman kondisi dan kebutuhan, baik yang menyangkut kemampuan atau potensi siswa maupun yang menyangkut potensi lingkungan.
Pembelajaran perseorangan pada umumnya lebih banyak diterapkan dalam pemberian tugas dan atau latihan. Setelah menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan pengarahan tentang tahapan belajar yang harus ditempuh oleh siswa, langkah selanjutnya yang dilakukan guru adalah sebagai berikut.
Pertama, menjelaskan secara singkat tentang materi pelajaran yang akan ditugaskan atau yang akan dilatihkan pada siswa. Kedua, memberikan lembaran kerja atau tugas. Ketiga, memantau dan menilai kegiatan siswa. Pada akhir kegiatan pembelajaran, guru memeriksa dan menilai tugas atau latihan yang telah dikerjakan oleh siswa serta memberikan balikan terhadap pekerjaan siswa.
Melalui penguatan guru dapat membangkitkan dan memelihara motivasi belajar siswa, dapat mengontrol dan memodifikasi tingkah laku siswa yang kurang baik, serta dapat mendorong munculnya tingkah laku yang produktif.

C. Kegiatan Akhir dan Tindak Lanjut Pembelajaran

Kegiatan Akhir Pembelajaran
Dengan melakukan kegiatan akhir pembelajaran, guru akan mengetahui kompetensi yang sudah dan yang belum dikuasai oleh siswa. Kegiatan yang bisa dilakukan guru dalam kegiatan akhir ini adalah memberikan tes, baik lisan maupun tertulis.
a.       Meninjau kembali penguasaan siswa
Untuk meninjau kembali penguasaan siswa terhadap materi yang telah dipelajari siswa, guru dapat melakukan dua cara yaitu merangkum pokok materi atau membuat ringkasan materi pelajaran.
Dalam melaksanakan kegiatan membuat rangkuman/ringkasan, hendaknya memperhatikan kriteria berikut :
(1)   Berorientasi pada acuan hasil belajar dan kompetensi dasar
(2)   Singkat, jelas dan bahasa mudah dipahami
(3)   Kesimpulan/ringkasan tidak keluar dari topik yang telah dibahas
(4)   Dapat menggunakan waktu sesingkat mungkin
b.      Melaksanakan penilaian
Melalui kegiatan penilaian akhir guru akan mengetahui tercapai tidaknya kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa. Untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap kompetensi yang diharapkan, guru dapat memberikan tes atau meminta siswa untuk membuat ringkasan atau kesimpulan dari materi yang telah dibahas.
Tes yang dilakukan pada akhir pembelajaran disebut tes akhir (post-test), yaitu tes yang ditujukan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang telah dipelajari. Dalam prosesnya guru dapat melaksanakan penilaian secara lisan atau tertulis.
Melaksanakan Kegiatan Tindak Lanjut Pembelajaran
Kegiatan tindak lanjut pembelajaran dapat dilaksanakan diluar jam pelajaran, sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia. Kegiatan ini dilakukan untuk mengoptimalkan hasil belajar siwa. Berikut ini beberapa kegiatan tindak lanjut yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan penguasaan siswa terhadap kemampuan yang diharapkan dimiliki siswa :
a.       Memberikan tugas atau latihan yang harus dikerjakan dirumah
Pemberian tugas tidak boleh melebihi kemampuan siswa, sebab memberikan tugas yang berlebihan dapat membuat siswa frustasi, jenuh bahkan akan dapat menurunkan motivasi serta minat belajarnya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam memberikan tugas kepada siswa. Pertama, guru hendaknya menentukan dan menjelaskan secara singkat tentang topik tugas yang dikerjakan oleh siswa. Kedua, guru perlu menjelaskan tentang tahapan tugas-tugas yang akan dikerjakan berdasarkan lembaran tugas. Ketiga, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang tugas yang belum dipahaminya. Kempat, guru menjelaskan tentang proses penyelesaian tugas. Kelima, siswa diminta menyerahkan dan mengerjakan tugas sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Keenam, guru harus memeriksa dan membahas setiap tugas yang diberikan.
b.      Membahas kembali bahan pelajaran yang belum dikuasai oleh siswa
Ada dua kemungkinan kegiatan yang dapat dilakukan guru untuk membantu siswa menguasai kompetensi yang belum dikuasainya. Pertama, membahas kembali materi yang belum dikuasai siswa pada saat itu juga, apabila waktunya tersedia. Kedua, membahas kembali materi pelajaran pada pertemuan berikutnya apabila membutuhkan waktu yang relative lama.
Guru hendaknya membuat desain tindak lanjut pembelajaran yang mencakup rumusan tujuan atau kompetensi yang akan dicapai, kegiatan belajar, evaluasi serta sumber belajar yang diperlukan.
c.       Membaca materi pelajaran tertentu
Siswa yang belum menguasai materi pelajaran dapat ditugaskan untuk membaca buku lain agar dapat memahami materi yang dibahas. Siswa yang sudah menguasai materi kompetensi yang diharapkan, dapat ditugaskan membaca buku sumber lain untuk memperluas wawasan siswa terhadap topik yang telah dipelajari.
d.      Memberikan motivasi atau bimbingan belajar
Untuk dapat memperbaiki atau meningkatkan penguasaan, siswa perlu mendapat bimbingan dari guru. Bimbingan tersebut dapat berupa arahan atau petunjuk yang jelas kepada siswa sehingga tugas yang diberikan dapat dikerjakan secara optimal oleh siswa.
e.       Mengemukakan tentang topik yang akan dibahas pada waktu yang akan datang
Cara ini perlu dilakukan diluar jam pelajaran. Untuk mendukung kegiatan tersebut guru perlu memberikan alternatif kegiatan belajar secara sistematis yang perlu dilakukan siswa diluar jam pelajaran.
Langkah selanjutnya yaitu menutup pelajaran, apabila pelajaran berlangsung pada jam yang paling akhir maka harus dibiasakan siswa menutup pelajaran dengan berdoa.

Model Pembelajaran Kooperatif

TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
Tentang
Model Pembelajaran Kooperatif



Disusun Oleh:
MILA KURNIA
(1820097)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing
Yessi Rifmasari,M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
 SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA 
PADANG
2020


A. PENGERTIAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF
      Adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.

B. KONSEP DASAR PEMBELAJARAN KOOPERATIF
        Pada dasarnya manusia mempunyai perbedaan, dengan perbedaan itu manusia saling asah, asih, asuh ( saling mencerdaskan ). Dengan pembelajaran kooperatif diharapkan saling menciptakan interaksi yang asah, asih, asuh sehingga tercipta masyarakat belajar ( learning community ). Siswa tidak hanya terpaku belajar pada guru, tetapi dengan sesama siswa juga.
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan, sebagai latihan hidup di masyarakat.

C.  CIRI-CIRI PEMBELAJARAN KOOPERATIF
 Didalam pembelajaran kooperatif terdapat elemen-elemen yang berkaitan. Menurut  Lie ( 2004 ):
1. Saling ketergantungan positif
Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan atau yang biasa disebut dengan saling ketergantungan positif yang dapat dicapai melalui : saling ketergantungan mencapai tujuan, saling ketergantungan menyelesaikan tugas, saling ketergantungan bahan atau sumber, saling ketergantungan peran, saling ketergantungan hadiah.
2. Interaksi tatap muka
Dengan hal ini dapat memaksa siswa saling bertatap muka sehingga mereka akan berdialog. Dialog tidak hanya dilakukan dengan guru tetapi dengan teman sebaya juga karena biasanya siswa akan lebih luwes, lebih mudah belajarnya dengan teman sebaya.
3. Akuntabilitas individual
Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok. Penilaian ditunjukkan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual. Hasil penilaian ini selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar semua kelompok mengetahui siapa kelompok yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan,maksudnya yang dapat mengajarkan kepada temannya. Nilai kelompok tersebut harus didasarkan pada rata-rata, karena itu anggota kelompok harus memberikan kontribusi untuk kelompnya. Intinya yang dimaksud dengan akuntabilitas individual adalah penilaian kelompok yang didasarkan pada rata-rata penguasaan semua anggota secara individual.
4. Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi
Keterampilan sosial dalam menjalin hubungan antar siswa harus diajarkan. Siswa yang tidak dapat menjalin hubungan antar pribadi akan memperoleh teguran dari guru juga siswa lainnya.

D.  UNSUR – UNSUR MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Menurut Roger dan David Johnson ada 5 unsur dalam model pembelajaran kooperatif, yaitu :
1. Positive interdependence ( saling ketergangtungan positif )
Unsur ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif ada 2 pertanggungjawaban kelompok. Pertama, mempelajari bahan yang ditugaskan kepada kelompok. Kedua, menjamin semua anggota kelompok secara individu mempelajari bahan yang ditugaskan tersebut.

Beberapa cara membangun saling ketergantungan positif yaitu :
a)    Menumbuhkan perasaan peserta didik bahwa dirinya terintegrasi dalam kelompok, pencapaian tujuan terjadi jika semua anggota kelompok mencapai tujuan.
b)   Mengusahakan agar semua anggota kelompok mendapatkan penghargaan yang sama jika kelompok mereka berhasil mencapai tujuan.
c)    Mengatur sedemikian rupa sehingga setiap peserta didik dalam kelompok hanya mendapatkan sebagian dari keseluruhan tugas kelompok.
d)   Setiap peserta didik ditugasi dengan tugas atau peran yang saling mendukung dan saling berhubungan, saling melengkapi dan saling terikat dengan peserta didik lain dalam kelompok.
2. Personal responsibility ( tanggung jawab perorangan )
Tanggung jawab perorangan merupakan kunci untuk menjamin semua anggota yang diperkuat oleh kegiatan belajar bersama.
3. Face to face promotive interaction ( interaksi promotif )
Unsur ini penting untuk dapat menghasilkan saling ketergantungan positif. Ciri – ciri interaksi promotif adalah :
a.   Saling membantu secara efektif dan efisien
b.   Saling memberi informasi dan sarana yang diperlukan
c.   Memproses informasi bersama secara lebih effektif dan efisien
d.   Saling mengingatkan
e.   Saling percaya
f.    Saling memotivasi untuk memperoleh keberhasilan bersama
4. Interpersonal skill ( komunikasi antar anggota / ketrampilan )
Dalam unsur ini berarti mengkoordinasikan kegiatan peserta didik dalam pencapaian tujuan peserta didik, maka hal yang perlu dilakukan yaitu :
a.   Saling mengenal dan mempercayai
b.   Mampu berkomunikasi secara akurat dan tidak ambisius
c.   Saling menerima dan saling mendukung
d.  Mampu menyelesaikan konflik secara konstruktif.
5. Group processing ( pemrosesan kelompok )
Dalam hal ini pemrosesan berarti menilai. Melalui pemrosesan kelompok dapat diidentifikasi dari urutan atau tahapan kegiatan kelompok dan kegiatan dari anggota kelompok. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas anggota dalam memberikan kontribusi terhadap kegiatan kolaboratif untuk mencapai tujuan kelompok.

E.  TUJUAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF
1. Meningkatkan hasil belajar akademik
Meskipun pembelajaran kooperatif meliputi berbagai macam tujuan social, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas – tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep – konsep yang sulit.
2. Penerimaan terhadap keragaman
Pembelajaran kooperatif memberi peluang kepada siswa yang berbada latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas – tugas bersama.
3. Pengembangan ketrampilan sosial
Mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi untuk saling berinteraksi dengan teman yang lain.

Jumat, 06 Maret 2020

Model belajar dan rumpun model mengajar

TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
Tentang
Model Pembelajaran Langsung



Disusun Oleh:
MILA KURNIA
(1820097)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing
Yessi Rifmasari,M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
 SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA 
PADANG
2020



A. Pengertian Model Pembelajaran Langsung 

Menurut Sudrajat (2011) model pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang menekankan pada penguasaan konsep dan/atau perubahan perilaku dengan mengutamakan pendekatan deduktif, dengan ciri-ciri sebagai berikut:
(1) transformasi dan ketrampilan secara langsung; 
(2) pembelajaran berorientasi pada tujuan tertentu;
(3) materi pembelajaran yang telah terstuktur; 
(4) lingkungan belajar yang telah terstruktur; 
(5) distruktur oleh guru. 
Menurut Uno dan Nurdin (2011: 111) model pembelajaran langsung dapat berbentuk ceramah, demonstrasi, pelatihan atau praktik, dan kerja kelompok.

B. Keunggulan dan kelemahan Model Pembelajaran Langsung ( Direct Instruction ) 

Adapun keunggulannya sebagai berikut 
1) Model pembelajaran langsung yang menekankan kegiatan mendengar (misalnya ceramah) dan mengamati (misalnya demonstrasi) dapat membantu siswa yang cocok belajar dengan cara-cara ini
 2) Dengan model pembelajaran langsung, guru mengendalikan isi materi dan urutan informasi yang diterima oleh siswa sehingga dapat mempertahankan fokus mengenai apa yang harus dicapai oleh siswa. 
3) Merupakan cara yang paling efektif untuk mengajarkan konsep dan keterampilan-keterampilan yang eksplisit kepada siswa yang berprestasi rendah. 
4) Model pembelajaran langsung dapat digunakan untuk membangun model pembelajaran dalam bidang studi tertentu. Guru dapat menunjukkan bagaimana suatu permasalahan dapat didekati, bagaimana informasi dianalisis, dan bagaimana suatu pengetahuan dihasilkan. 
5) Dapat digunakan untuk menekankan poin-poin penting atau kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi siswa sehingga hal-hal tersebut dapat diungkapkan. 
6) Dapat menjadi cara yang efektif untuk mengajarkan informasi dan pengetahuan faktual 
yang sangat terstruktur. 
7) Model pembelajaran langsung bergantung pada kemampuan refleksi guru sehingga gurudapat terus menerus mengevaluasi dan memperbaikinya

Adapun kelemahan Model Pembelajaran Langsung ( Direct Instuction ) sebagai berikut : 
1) Karena siswa hanya memiliki sedikit kesempatan untuk terlibat secara aktif, sulit bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial dan interpersonal mereka. 
2) Model pembelajaran langsung sangat bergantung pada gaya komunikasi guru. Komunikator yang buruk cenderung menghasilkan pembelajaran yang buruk pula dan model pembelajaran langsung membatasi kesempatan guru untuk menampilkan banyak perilaku komunikasi positif. 
3) Jika model pembelajaran langsung tidak banyak melibatkan siswa, siswa akan kehilangan perhatian setelah 10-15 menit dan hanya akan mengingat sedikit isi materi yang disampaikan. 
4) Jika terlalu sering digunakan, model pembelajaran langsung akan membuat siswa percaya bahwa guru akan memberitahu mereka semua yang perlu mereka ketahui. Hal ini akan menghilangkan rasa tanggung jawab mengenai pembelajaran mereka sendiri. 
5) Karena guru memainkan peran pusat dalam model ini, kesuksesan strategi pembelajaran ini bergantung pada image guru. Jika guru tidak tampak siap, berpengetahuan, percaya diri, antusias, dan terstruktur, siswa dapat menjadi bosan, teralihkan perhatiannya, dan pembelajaran mereka akan terhambat.

C. Tahap-Tahap Pembelajaran Langsung 

Salah satu karakteristik dari suatu model pembelajaran adalah adanya sintaks atau tahapan-tahapan pembelajaran yang harus diperhatikan guru. Adapun Tahapan atau sintaks model pembelajaran langsung menurut Bruce dan Weil (1996), sebagai berikut:

1. Orientation (Orientasi)
Sebelum menyajikan dan menjelaskan materi baru, akan sangat menolong siswa jika guru memberikan kerangka pelajaran dan orientasi terhadap materi yang akan disampaikan. Bentuk-bentuk orientasi dapat berupa: (1) kegiatan pendahuluan untuk mengetahui pengetahuan yang relevan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa; (2) mendiskusikan atau menginformasikan tujuan pelajaran; (3) memberikan penjelasan/arahan mengenai kegiatan yang akan dilakukan; (4) menginformasikan materi/konsep yang akan digunakan dan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran; dan(5) menginformasikan kerangka pelajaran.

2. Presentation (Presentasi)
Pada fase ini guru dapat menyajikan materi pelajaran baik berupa konsep-konsep maupun keterampilan. Penyajian materi dapat berupa: (1) penyajian materi dalam langkah-langkah kecil sehingga materi dapat dikuasai siswa dalam waktu relatif pendek;(2) pemberian contoh-contoh konsep; (3) pemodelan atau peragaan keterampilan dengan cara demonstrasi atau penjelasan langkah-langkah kerja terhadap tugas; dan (4) menjelaskan ulang hal-hal yang sulit.

3. Structured Practice (Latihan terstruktur)
Pada fase ini guru memandu siswa untuk melakukan latihan-latihan. Peran guru yang penting dalam fase ini adalah memberikan umpan balik terhadap respon siswa dan memberikan penguatan terhadap respon siswa yang benar dan mengoreksi respon siswa yang salah.

4. Guided Practice (Latihan terbimbing)
Pada fase ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih konsep atau keterampilan. Latihan terbimbing ini baik juga digunakan oleh guru untuk mengases/menilai kemampuan siswa untuk melakukan tugasnya. Pada fase ini peran guru adalah memonitor dan memberikan bimbingan jika diperlukan.

5. Independent Practice (Latihan mandiri)
Pada fase ini siswa melakukan kegiatan latihan secara mandiri, fase ini dapat dilalui siswa jika telah menguasai tahap-tahap pengerjaan tugas 85-90% dalam fase bimbingan latihan.

D. Langkah-Langkah Pembelajaran Langsung

1. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa.
Pada fase ini guru berperan dalam menjelaskan TPK, materi prasyarat, memotivasi siswa  dan mempersiapkan siswa.
2. Mendemonstrasi pengetahuan dan keterampilan.
Pada fase ini guru berperan dalam mendemonstrasikan keterampilan atau menyajikan informasi tahap demi tahap.
3. Membimbing pelatihan.
Pada fase ini guru berperan memberikan latihan terbimbing
4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpanbalik.
Pada fase ini seorang guru berperan mengecek kemampuan siswa seperti memberi kuis terkini dan memberi umpan balik seperti membuka diskusi untuk siswa.
5. Memberikan latihan dan penerapan konsep.
Pada fase ini guru berperan dalam mempersiapkn latihan untuk siswa dengan menerapkan konsep yang dipelajari pada kehidupan sehari-hari.

Sumber :

Sudrajat, A. 2011. Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)

Bruce Joyce,  Marsha Weil and Emily Calhoun. Models Of Teaching, (PHI Learning, tt)