Sabtu, 30 Mei 2020

Keterampilan Mengadakan Variasi dan Keterampilan Menjelaskan

TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
Tentang
Keterampilan Mengadakan Variasi dan Keterampilan Menjelaskan



Disusun Oleh:
MILA KURNIA
(1820097)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing
Yessi Rifmasari,M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA 
PADANG
2020




A.Keterampil Mengadakan Variasi dan Keterampilan Menjelaskan 

1. keterampilan mengadakan variasi

Variasi adalah keanekaan yang membuat sesuatu tidak monoton. Jadi keterampilan menggunakan variasi merupakan keterampilan guru dalam menggunakan bermacam kemampuan dalam mengajar untuk memberikan rangsangan kepada siswa agar suasana pembelajaran selalu menarik, sehingga siswa bergairah dan antusias dalam menerima pembelajaran dan aktivitas belajar mengajar dapat  berlangsung secara efektif.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tidak terbebas dari kejenuhan apabila melihat serta mendengarkan hal yang sama. Demikian pula dalam bidang pembelajaran. Siswa akan menjadi bosan apabila setiap hari hanya menjumpai hal-hal yang rutin, seperti mendengarkan uraian guru semata. Untuk mengatasi kebosanan tersebut, guru dapat memberikan variasi dalam kegiatan pembelajaran. Variasi yang dapat dilakukan guru mencakup :

a.  Variasi suara, meliputi: 
  • pemusatan perhatian,
  • kesenyapan,
  • kontak pandang,
  • gerakan dan mimik, serta
  • pergantian posisi.

b. Variasi penggunaan media dan alat pembelajaran, mencakup:
  • variasi media dan alat yang dapat dilihat,
  • variasi media dan alat yang dapat didengar, serta
  • variasi media atau alat yang diraba atau dimanipulasi.

c. Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa
 Pola ini sangat beragam, dari pola yang didominasi oleh guru sampai dengan pola yang memberi kesempatan siswa untuk bekerja sendiri sepenuhnya.

d. Tujuan penggunaan variasi dalam proses belajar mengajar yaitu menghilangkan kebosanan dalam mengikuti proses belajar, mempertahankan kondisi optimal belajar, meningkatkan perhatian dan motivasi peserta didik, dan memudahkan pencapaian tujuan pengajaran.

e. Jenis-jenis variasi dalam mengajar 
  1. variasi dalam gaya mengajar, mencakup variasi suara, pemusatan perhatian, kesenyapan,mengadakan kontak pandang, gerakan pandang dan mimik serta perubahan dalam posisi guru.
  2. variasi pola interaksi dan kegiatan, mencakup pola interaksi klasikal, kelompok dan perorangan.
  3. variasi dalam penggunaan metode, contohnya variasi alat bantu pembelajaran yang dapat dilihat, variasi alat bantu pembelajaran yang dapat didengar, variasi alat bantu pembelajaran yang dapat diraba dan dimanipulasi.
  4. Prinsip-prinsip penggunaan variasi dalam pengajaran adalah Variasi yang digunakan harus mengandung maksud tertentu, gunakan variasi dengan wajar dengan tidak berlebihan, perubahan satu jenis variasi ke variasi lainnya harus efektif dan penggunaan variasi harus direncakan dan sesuai dengan bahanmetode, dan karakteristik peserta didik.  

2. Keterampilan Menjelaskan

 a.  Pengertian keterampilan menjelaskan 

Keterampilan menjelasakan adalah suatu keterampilan menyajikan bahan belajar yang diorganisasikan secara sistematis sebagai suatu kesatuan yang berarti, sehingga mudah dipahami para peserta didik.
    Keterampilan menjelaskan dalam pengajaran adalah penyajian informasi secara lisan yang diorganisir dengan sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan antara satu pesan dengan pesan yang lainnya, sehingga tercapailah suatu pemahaman yang diinginkan. Misalnya antara sebab dan akibat, definisi dengan contoh, atau dengan suatu yang belum diketahui.
    Pengertian menjelaskan adalah mendeskripsikan secara lisan tentang suatu benda, keadaan, fakta dan data sesuai dengan waktu dan hukum-hukum yang berlaku. Menjelaskan juga dapat diartikan sebagai penyajian informasi lisan yang diorganisasikan secara sistematis yang bertujuan untuk menunjukkan hubungan, mislnya antara sebab dan akibat, atau antara yang diketahui dan yang belum diketahui, atau antara hukum (dalil dan definisi) yang berlaku umum dengan ukti atau contoh sehari-hari.

b. Komponen-komponen merencanakan penjelasan, mencakup:
  • hal-hal yang berhubungan dengan isi pesan,dan
  • hal-hal yang berhubungan dengan siswa sebagai penerima pesan.

c. TUJUAN 

  1. Membimbing siswa untuk dapat memahami ilmu pengetahuan secara objektif dan bernalar.
  2. Melatih siswa untuk senantiasa berkonsentrasi dalam menyimak penjelasan guru sehingga melibatkan mereka untuk berpikir sambil memecahkan masalah-masalah atau pertanyaan.
  3. Untuk mendapat respon dan umpan balik (feed back) siswa mengenai tingkat pemahamannya serta untuk mengatasi kesalahpahaman mereka.
  4. Membimbing siswa untuk menghayati dan mendapat proses penalaran dengan menggunakan bukti-bukti dalam pemecahan masalah tersebut.
  5. Meningkatkan keefektifan pembicaraan agar benar-benar merupakan penjelasan yang bermakna bagi siswa karena pada umumnya pembicaraan lebih didominasi oleh guru daripada oleh siswa.

KOMPONEN DAN CONTOH

Komponen keterampilan menjelaskan terbagi menjadi 2, yaitu :

1. Komponen merencanakan penjelasan

a. Isi pesan (tema)

Isi pesan yang dipilih dan disusun harus dijelaskan secara sistematis disertai contoh-contoh.

Cakupannya :
  • Menganalisis masalah secara keseluruhan

Contoh : Pesawat terbang dapat terbang karena adanya unsure sayap khusus dan angin yang dapat dilihat keterkaitanya.
  • Menentukan jenis hubungan yang ada antara unsur-unsur yang dikaitkan

Contoh : Kecepatan angina yang berada pada bagian atas dan bawah sayap pesawat
  • Menggunakan hukum, rumus, dan generalisasi yang sesuai dengan hubungan yang telah ditentukan

Contoh : Prinsip sayap pesawat terbang dapat dipakai dalam mendesai mobil balap.
Penerima pesan harus dipertimbangkan karakteristiknya.

Kesiapan siswa memahami penjelasan, berkaitan erat dengan usia, jenis kelamin, kemampuan, latar belakang sosial, dan lingkungan belajar.

Sehubungan dengan itu ada tiga pertanyaan yang harus membimbing seseorang untuk merencanakan suatu penjelasan, yaitu :
  1. Apakah penjelasan itu cukup relevan dengan pertanyaan yang diajukan siswa
  2. Apakah penjelasan itu memadai, yakni mudah diserap siswa melalui apa yang telah diketahui
  3. Apakah penjelasan itu cocok dengan khazanah pengetahuan anak pada waktu itu.

Contoh : Siswa yang berada pada tingkat operasi kongkrit dengan pemakaian istilah yang masih terbatas dan kalimat yang panjang masih sukar ditangkap penggunaan contoh harus lebih banyak.

2. Komponen menyajikan penjelasan

a.  Kejelasan

Kejelasan yaitu keterampilan yang erat kaitannya dengan penggunaan bahasa lisan. Kejelasan dalam menjelaskan, dapat dicapai dengan berbagai cara seperti bahasa yang jelas, berbicara dengan lancar, dan mendefinisikan istilah-istilah teknis, serta berhenti sejenak untuk melihat respon peserta didik.

b.  Penggunaan contoh dan ilustrasi

Agar penjelasan yang diberikan dapat dipahami sesuai dengan tujuan yang diharapkan maka diperlukan beberapa contoh dan ilustrasi. Penggunaan contoh dan ilustrasi dapat dilakukan mengikuti pola induktif atau pola deduktif.

Induktif, yaitu memberikan contoh terlebih dahulu dan akhirnya menyimpulkan.
Deduktif, yaitu menggunakan contoh untuk memperjelas suatu hukum atau generalisasi yang diberikan terlebih dahulu.

Pola yang digunakan bergantung pada materi pembelajaran, kemampuan, usia dan latar belakang kemampuan peserta didik tentang pembelajaran tersebut.

c.  Pemberian tekanan

Pemberian tekanan dilakukan pada bagian-bagian yang penting dengan cara penekanan suara atau mengemukakan tujuan. Keterampilan memberikan tekanan mencakup :
  • Mengadakan variasi dalam gaya mengajar guru

Contoh : Memberi tekanan pada suara guru ketika memberikan butir-butir yang dianggap penting.
  • Membuat struktur sajian

Yaitu menunjukkan tujuan utama sajian.
Contoh :
Memberikan pengulangan
Mengatakan sesuatu yang dianggap penting dengan kalimat lain
yang lebih mudah dipahami
Memberikan tanda lisan, seperti kata “pertama” , ”kedua” dll.
Peserta didik diberi kesempatan untuk menunjukkan pemahaman ataupun keraguan ketika penjelasan berlangsung (balikan).

Balikan bertujuan untuk mendapat informasi tentang tingkat pemahaman siswa, baik melalui pertanyaan mapun melalui tugas.Pada waktu memberikan penjelasan, hendaknya guru memperhatikan gerak-gerik dan mimik peserta didik, apakah penjelasan yang diberikan dapat dipahami atau meragukan, menyenangkan atau membosankan, dan apakah menarik perhatian atau tidak. Untuk kepentingan tersebut, perhatikanlah mereka selama memberikan penjelasan, ajukan pertanyaan-pertanyaan dan memberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan.


Daftar rujukan:

http://keguruandanpendidikan.blogspot.com/2011/10/sbm.htmlSukirman, Dadang. 2010. Keterampilan Dasar Mengajar. D:\Pasca sarjana UNP\Strategi

pembelajaran fisika\BAHAN\06 Keterampilan Dasar Guru\makalah ket das mengajar.  

Keterampilan Mengelola kelas

Tugas
Strategi pembelajaran
Tentang 
Mengelola kelas


Disusun Oleh:

Nama    : MILA KURNIA
NIM      : 1820097
Kelas      : PGSD 4.4

DOSEN PENGAMPU
Yessi Rifmasari, M.Pd.

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2020






KETERAMPILAN MENGELOLA KELAS

1. Pengertian Keterampilan Mengelola kelas

Depdikbud, 1985 keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, dan keterampilan untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal, apabila terdapat gangguan dalam proses belajar baik yang bersifat gangguan kecil dan sementara maupun gangguan yang berkelanjutan.

Menurut (Majid, 2014) pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya jika terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar.

Menurut (Mulyasa, 2013) pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran.

Menurut (Usman, 2013) pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar.

Menurut (Wardani, 2005) keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan dalam menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal guna terjadinya proses pembelajaran yang selalu serasi dan efektif.

Menurut (Wina Sanjaya, 2005) bahwa pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya manakala terjadi hal-hal yang dapat mengganggu suasana pembelajaran.

Menurut (Winataputra, 2004) keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, serta keterampilan guru untuk mengembalikan kondisi belajar yang terganggu ke arah kondisi belajar yang optimal.

Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan yang digunakan oleh seorang guru dalam proses  pembelajaran guna untuk mengkondisikan belajar siswa dengan harapan supaya terjadi suatu kondisi kelas yang kondusif, memaksimalkan sarana dan prasarana, menjaga keterlibatan siswa, menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang optimal dan rasa nyaman dalam proses belajar mengajar. Maka dalam melaksanakan keterampilan mengelola kelas, perlu memperhatikan komponen keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal. Hal ini berkaitan dengan kemampuan seorang guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran.


2. Tujuan Mengelola kelas

Menurut (Usman, 2002)  pengelolaan kelas mempunyai dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.

Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas belajar untuk bermacam-macam kegiatan belajar mengajar agar mencapai hasil yang baik.

Tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan.
Adapun tujuan dari pengelolaan kelas menurut (Suharsimi, 1996) adalah agar setiap anak dikelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Pengelolaan kelas tersebut dimaksudkan untuk menciptakan suatu kondisi dalam kelompok kelas yang baik, kondusif dan terarah yang memungkinkan siswa untuk berbuat dan beraktifitas sesuai dengan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya.


3. Komponen Keterampilan Mengelola kelas

Menurut ( Wardani, 2005) komponen keterampilan mengelola kelas meliputi:
Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal.
Memperlihatkan sikap yang tanggap dengan melihat secara jeli dan seksama, mendekatkan diri, memberikan sebuah pernyataan, atau memberi reaksi terhadap gangguan kelas.
Membagi perhatian secara visual dan verbal.
Memusatkan perhatian kelompok dengan cara menyiapkan siswa dan menuntut tanggungjawab siswa.
Memberi petunjuk-petunjuk yang jelas.
Menegur secara bijaksana, yaitu secara jelas dan tegas, bukan berupa peringatan atau ocehan, serta membuat aturan.
Memberikan penguatan seperlunya.
Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal.
Modifikasi tingkah laku. Dalam strategi ini, hal pokok yang harus dikuasai seorang guru adalah mengajarkan tingkah laku baru yang diinginkan dengan cara memberikan contoh, bimbingan dan meningkatkan munculnya tingkah laku siswa yang baik dengan memberikan penguatan.

Pengelolaan/ proses kelompok. Dalam strategi ini kelompok dimanfaatkan dalam memecahkan masalah-masalah pengelolaan kelas yang muncul, terutama melalui diskusi.

Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah. Dalam strategi ini perlu ditekankan bahwa setiap tingkahlaku yang keliru merupakan gejala dari suatu permasalahan.


4. Prinsip Pengunaan Keterampilan Mengelola Kelas

Menurut (Wardani, 2005) dalam menerapkan keterampilan mengelola kelas perlu diingat 6 prinsip, yaitu:

  1. Kehangatan dan keantusiasan dalm mengajar, yang dapat menciptakan iklim kelas yang menyenangkan.
  2. Menggunakan kata-kata atau tindakan yang dapat menantang siswa untuk berfikir.
  3. Menggunakan berbagai variasi yang dapat menghilangkan kebosanan.
  4. Keluwesan guru dalam pelaksanaan tugas.
  5. Penekanan pada hal-hal yang bersifat positif.
  6. Penanaman disiplin diri sendiri.


Sedangkan prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang dikemukakan oleh (Usman, 2013) adalah sebagai berikut:

  1. Kehangatan dan keantusiasan
  2. Tantangan
  3. Bervariasi
  4. Keluwesan
  5. Penekanan pada hal-hal yang positif

Rabu, 06 Mei 2020

Pembelajaran Efektif

TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
Tentang
Kegiatan Pengayaan 



Disusun Oleh:
MILA KURNIA
(1820097)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing
Yessi Rifmasari,M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA 
PADANG


2020


A.  Hakikat Pembelajaran Efektif
1.    Pengertian Belajar dan Pembelajaran
Belajar pada hakikatnya merupakan suatu usaha, suatu proses perubahan yang terjadi pada individu sebagai hasil dari pengalaman atau hasil dari pengalaman interaksi dengan lingkungannya.[2] Belajar juga kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan, hal ini berarti keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan sangat tergantung pada keberhasilan proses belajar siswa di sekolah dan lingkungan sekitarnya. Soemanto[3]
Menurut Hamalik Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi (siswa dan guru), material (buku, papan tulis, kapur dan alat belajar), fasilitas (ruang, kelas audio visual), dan proses yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran[4]. Dapat disimpulkan bahwa secara umum pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik. Pembelajaran bertujuan membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa menjadi bertambah, baik kuantitas maupun kualitasnya.

2.    Pengertian Efektif
Efektif adalah perubahan yang membawa pengaruh, makna dan manfaat tertentu. Pembelajaran yang efektif ditandai dengan sifatnya yang menekankan pada pemberdayaan siswa secara aktif.

3. Hakikat Pembelajaran Efektif
Hakikat pembelajaran yang efektif adalah proses belajar mengajar yang bukan saja terfokus kepada hasil yang dicapai peserta didik, namun bagaimana proses pembelajaran yang efektif mampu memberikan pemahaman yang baik, kecerdasan, ketekunan, kesempatan dan mutu serta dapat memberikan perubahan prilaku dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka.[5]
Pembelajaran efektif akan melatih dan menanamkan sikap demokratis bagi siswa, serta dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga memberikan kreatifitas siswa untuk mampu belajar dengan potensi yang sudah mereka miliki yaitu dengan memberikan kebebasan dalam melaksanakan pembelajaran dengan cara belajarnya sendiri. Di dalam menempuh dan mewujudkan tujuan pembelajaran yang efektif maka perlu dilakukan sebuah cara agar proses pembelajaran yang diinginkan tercapai yaitu dengan cara belajar efektif. Untuk meningkatkan cara belajar yang efektif perlu adanya bimbingan dari guru.


B. Karakteristik Pembelajaran yang Efektif
Terdapat beberapa karakteristik pembelajaran yang efektif antara lain:

1.    Belajar secara aktif baik mental maupun fisik. Aktif secara mental ditunjukkan dengan mengembangkan kemampuan intelektualnya, kemampuan berfikir kritis. Dan secara fisik, misalnya menyusun intisari pelajaran, membuat peta dan lain-lain.
2.    Metode yang bervariasi, sehingga mudah menarik perhatian siswa dan kelas menjadi hidup.
3.    Motivasi guru terhadap pembelajaran di kelas.
4.    Suasana demokratis di sekolah, yakni dengan menciptakan lingkungan yang saling menghormati, dapat mengerti kebutuhan siswa, tenggang rasa, memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar mandiri, menghargai pendapat orang lain.
5.    Pelajaran di sekolah perlu dihubungkan dengan kehidupan nyata.
6.    Interaksi belajar yang kondusif, dengan memberikan kebebasan untuk mencari sendiri, sehingga menumbuhkan rasa tanggung jawab yang besar pada pekerjaannya dan lebih percaya diri sehingga anak tidak menggantungkan pada diri orang lain.
7.    Pemberian remedial dan diagnosa pada kesulitan belajar yang muncul, mencari faktor penyebab dan memberikan pengajaran remedial sebagai perbaikan, jika diperlukan [6]


C. Kondisi Efektif
       Dalam menciptakan kondisi yang baik, hendaknya guru memperhatikan dua hal: pertama, kondisi internal merupakan kondisi yang ada pada diri siswa itu sendiri, misalnya kesehatan, keamanannya, ketentramannya, dan sebagainya. Kedua, kondisi eksternal yaitu kondisi yang ada di luar pribadi manusia, umpamanya kebersihan rumah, penerangan serta keadaan lingkungan fisik yang lain. Dalam mewujudkan kondisi pembelajaran yang efektif, maka perlu dilakukan langkah-langkah berikut ini:
1.    Melibatkan siswa secara aktif
2.    Menarik minat dan perhtian siswa
3.    Membangkitkan motivasi siswa
4.    Memberikan pelayanan individu Siswa
5.    Menyiapkan dan menggunakan berbagai media dalam pembelajaran


D. Suasana Pembelajaran Efektif
Beberapa suasana yang efektif dalam pelaksanaan proses pembelajaran:

1.    Suasana belajar yang menyenangkan
Suasana belajar yang menyenangkan akan terwujud apabila terdapat keterlibatan penuh, perhatian peserta didik tercurah, lingkungan belajar yang menarik (misalnya keadaan kelas terang, pengaturan tempat duduk leluasa untuk peserta didik bergerak),dan adanya rasa aman dan bersemangat.

2. Suasana Bebas
Suasana bebas atau terbuka (permisif) merupakan kebebasan bagi siswa dalam berbicara dan atau berpendapat.

3. Pemilihan media pengajaran dan metode yang sesuai
Guru dituntut mampu memiliki dan menggunakan media pengajaran sesuai dengan materi yang akan di sajikan, dituntut mampu menggunakan metode mengajar secara stimulan untuk menghidupkan suasana pengajaran dengan baik.


E. Upaya Memelihara Kondisi dan Suasana Belajar yang Efektif
Upaya-upaya yang dilakukan ini merupakan usaha dalam menciptakan sekaligus memelihara kondisi dan suasana belajar yang efektif antara lain:

1.    Tanggung jawab pendidik
Guru sebagai perancang pengajaran dituntut memiliki kemampuan untuk merencanakan kegiatan belajar mengajar secara efektif, yang berarti harus memiliki pengetahuan dan keahlian yang profesional serta kesiapan pada proses belajar mengajar.

2.      Penataan lingkungan belajar
Dalam memelihara kondisi dan suasana yang efektif perlu adanya penataan lingkungan belajar. Aktivitas guru dalam menata lingkungan belajar lebih terkonsentrasi pada pengelolaan lingkungan belajar di dalam kelas. Oleh karena itu guru dalam melakukan penataan lingkungan belajar dikelas tiada lain melakukan aktivitas pengelolaan kelas atau manajemen kelas (classroom management).

3. Cara pengajaran pendidik
Dalam rangka memelihara kondisi dan suasana belajar yang efektif maka guru harus mampu memilih cara yang tepat dalam pelaksanaan pembelajaran. Karena mengajar adalah hal yang kompleks dan melibatkan peserta didik yang bervariasi, maka seorang Pendidik harus mampu dan menguasai beragam strategi dan perspektif serta dapat mengaplikasikannya secara fleksibel.


F. Strategi Pembelajaran Efektif
     Untuk meningkatkan cara belajar yang efektif diperlukan strategi yang tepat agar pembelajaran dapat berjalan dengan optimal dan seefektif mungkin. Dalam melaksanakan strategi tersebut, diperlukan beberapa hal yaitu:

1.    Prinsip-prinsip belajar
Prinsip belajar merupakan cara untuk mencapai pembelajaran yang efektif. Dengan adanya prinsip belajar ini, akan terjadi sebuah perubahan bagi peserta didik yang signifikan diantaranya:
a.    Perubahan yang disadari
b.    Perubahan yang berkesinambungan

2.      Esensi Belajar
a.   Perubahan seluruh aspek pribadi
b.   Proses yang disengaja dan disadari
c.   Terjadi karena ada dorongan/kebutuhan yang ingin dicapai
d.  Bentuk pengalaman yang sistematis, dan terarah

3.      Rangkaian aktivitas belajar
a. Adanya kebutuhan dan tujuan : merasakan adanya kekurangan
b.    Kesiapan untuk memenuhi kebutuhan
c.   Pemahaman situasi : melihat aspek yang terkait dengan belajar
d.  Menafsirkan situasi : hubungan berbagai aspek
e.    Respons : aktivitas belajar

4.    Hasil Pembelajaran
a.    Informasi verbal
b.    Kecakapan intelektual : diskriminasi, konsep konkret, aturan
c.    Strategi kognitif
d.   Sikap
e.    Kecakapan motorik

5.    Kualitas belajar
a.    Belajar untuk menjadi diri sendiri
b.    Belajar untuk belajar
c.    Belajar untuk berbuat
d. Belajar untuk hidup bersama secara damai



Sumber :

Djiwandoro, Sri Esti Wuryani. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Grasindo.

Hamalik, Oemar. 2002. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Slameto. 1995.Belajar dan Faktor-Faktor Belajar yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.

Soemanto. Wasty. 1998. Psikologi Pendidikan: Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Minggu, 26 April 2020

Kegiatan Pengayaan

TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
Tentang
Kegiatan Pengayaan 



Disusun Oleh:
MILA KURNIA
(1820097)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing
Yessi Rifmasari,M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA 
PADANG
2020


A. Pengertian Pembelajaran Pengayaan

Pengayaan adalah kegiatan tambahan yang dieberikan kepada siswa yang telah mencapai ketenetuan dalam belajar yang diamaksudkan untuk menambah wawasan atau memeperluas pengetahuannya dalam materi pelajran yang telah dipelajarinya. Disamping itu pembeljaran pengayaan bisa diaetikan memberikan  pemahaman yang lebih dalam dari pada sekedar standar kompetensi dalam kurikkulum. 

Dalam hal ini, mukhtar dan rusmini (2009) menguatakan bahwa kegiatan oengayaan merupakan kegiatan yang relatif bebas, karena bersifat memperluas, memperdalam dan menunjang satuan pelajaran yang diterapkan kepada semua siswa yang sudah tuntas dalam belajar. Artinya, kegiatan pengayaan ini bukanlah merupakan suatu kasus yang dialami oleh siswa-siswa yang belum tuntas yang disebabkan oleh kelambatan, kesulitan atau kegagalan dalam belajar.


B. Tujuan Pembelajaran Pengayaan

Kegiatan pengayaan dilaksanakan dengan tujuan memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperdalam penguasaan materi pelajaran yang berkaitan dengan tugas belajar yang sedang dilaksanakan sehingga tercapai tingkat perkembangan yang optimal.


C. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Pengayaan

Prinsip-prinsip program pengayaan yang perlu diperhatikan dalam mengonsep program pengayaan menurut Khatena (1992):

a.       Inovasi
Guru perlu menyesuaikan program yang diterapkannya dengan kekhasan peserta didik, karakteristik kelas serta lingkungan hidup dan budaya peserta didik.

b.      Kegiatan yang memperkaya
Dalam menyusun materi dan mendisain pembelajaran pengayaan, kembangkan dengan kegiatan yang menyenangkan, membangkitkan minat, merangsang pertanyaan, dan sumber-sumber yang bervariasi dan memperkaya.

c.       Merencanakan metodologi yang luas dan metode yang lebih bervariasi. Misalnya dengan memberikan project, pengembangan minat dan aktivitas-akitivitas menggugah (playful). Menerapkan informasi terbaru, hasil-hasil penelitian atau kemajuan program-program pendidikan terkini.


D. Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan

Pemberian pembelajaran pengayaan pada hakikatnya adalah pemberian bantuan bagi peserta didik yang memiliki kemampuan lebih, baik dalam kecepatan maupun kualitas belajarnya. Agar pemberian pengayaan tepat sasaran maka perlu ditempuh langkah-langkah sistematis, yaitu (1) mengidentifikasi kelebihan kemampuan peserta didik, dan (2) memberikan perlakuan (treatment) pembelajaran pengayaan.

1. Identifikasi Kelebihan Kemampuan Belajar

a. Tujuan

Identifikasi kemampuan berlebih peserta didik dimaksudkan untuk mengetahui jenis serta tingkat kelebihan belajar peserta didik. Kelebihan kemampuan belajar itu antara lain meliputi:

  1. Belajar lebih cepat. Peserta didik yang memiliki kecepatan belajar tinggi ditandai dengan cepatnya penguasaan kompetensi (SK/KD) mata pelajaran tertentu.
  2. Menyimpan informasi lebih mudah Peserta didik yang memiliki kemampuan menyimpan informasi lebih mudah, akan memiliki banyak informasi yang tersimpan dalam memori/ ingatannya dan mudah diakses untuk digunakan.
  3. Keingintahuan yang tinggi. Banyak bertanya dan menyelidiki merupakan tanda bahwa seorang peserta didik memiliki hasrat ingin tahu yang tinggi.
  4. Berpikir mandiri. Peserta didik dengan kemampuan berpikir mandiri umumnya lebih menyukai tugas mandiri serta mempunyai kapasitas sebagai pemimpin.
  5. Superior dalam berpikir abstrak. Peserta didik yang superior dalam berpikir abstrak umumnya menyukai kegiatan pemecahan masalah.
  6. Memiliki banyak minat. Mudah termotivasi untuk meminati masalah baru dan berpartisipasi dalam banyak kegiatan.

b. Teknik

Teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemampuan berlebih peserta didik dapat dilakukan antara lain melalui : tes IQ, tes inventori, wawancara, pengamatan, dsb.

  1. Tes IQ (Intelligence Quotient) adalah tes yang digunakan untuk mengetahui tingkat kecerdasan peserta didik. Dari tes ini dapat diketahui tingkat kemampuan spasial, interpersonal, musikal, intrapersonal, verbal, logik/matematik, kinestetik, naturalistik, dsb.
  2. Tes inventori. Tes inventori digunakan untuk menemukan dan mengumpulkan data mengenai bakat, minat, hobi, kebiasaan belajar, dsb.
  3. Wawancara. Wanwancara dilakukan dengan mengadakan interaksi lisan dengan peserta didik untuk menggali lebih dalam mengenai program pengayaan yang diminati peserta didik.
  4. Pengamatan (observasi). Pengamatan dilakukan dengan jalan melihat secara cermat perilaku belajar peserta didik. Dari pengamatan tersebut diharapkan dapat diketahui jenis maupun tingkat pengayaan yang perlu diprogramkan untuk peserta didik.

2. Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Pengayaan

Bentuk-bentuk pelaksanaan pembelajaran pengayaan dapat dilakukan antara lain melalui:

  1. Belajar Kelompok. Sekelompok peserta didik yang memiliki minat tertentu diberikan pembelajaran bersama pada jam-jam pelajaran sekolah biasa, sambil menunggu teman-temannya yang mengikuti pembelajaran remedial karena belum mencapai ketuntasan.
  2. Belajar mandiri. Secara mandiri peserta didik belajar mengenai sesuatu yang diminati.
  3. Pembelajaran berbasis tema. Memadukan kurikulum di bawah tema besar sehingga peserta didik dapat mempelajari hubungan antara berbagai disiplin ilmu.
  4. Pemadatan kurikulum. Pemberian pembelajaran hanya untuk kompetensi/materi yang belum diketahui peserta didik. Dengan demikian tersedia waktu bagi peserta didik untuk memperoleh kompetensi/materi baru, atau bekerja dalam proyek secara mandiri sesuai dengan kapasitas maupun kapabilitas masing-masing.



Sumber :
Depdiknas. 2008. Sistem Penilaian KTSP: Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pengayaan.

Sabtu, 25 April 2020

Kegiatan Remedial

TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
Tentang
Kegiatan Remedial



Disusun Oleh:
MILA KURNIA
(1820097)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing
Yessi Rifmasari,M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA 
PADANG
2020


A. Pengertian Pembelajaran Remedial

Pembelajaran Remedial adalah pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai ketuntasan pada KD tertentu, dengan menggunakan berbagai metode yang diakhiri dengan penilaian untuk mengukur kembali tingkat ketuntasan belajar peserta didik.

Pada hakikatnya, semua peserta didik akan dapat mencapai standar kompetensi yang ditentukan, hanya waktu pencapaiannya yang berbeda. Oleh karenanya perlu adanya program pembelajaran remedial (perbaikan).

Menurut Sobri (2009 :164) pembelajaran remedial adalah suatu bentuk  pembelajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan supaya menjadi lebih baik. Proses pembelajaran ini bersifat lebih khusus karena disesuaiakan dengan jenis dan sifat kesulitan belajar yang dihadapi siswa. Proses bantuan lebih ditekan kan pada usaha perbaikan cara-cara belajar, cara membelajarkan,  penyesuaian materi pelajaran, penyembuhan segala hambatan yang dihadapi. Jika  penulis dapa simpulkan sementara, bahwa sistem remedial itu merupakan cara yang dilakukan guru dalam membantu siswa yang tidak mencapai ketuntasan/ keberhasilan pembelajaran setelah melakukan diagnostis terlebih dahulu.

B. Tujuan Pembelajaran Remedial

Tujuan umum pembelajaran remedial adalah agar setiap siswa dapat mencapai prestasi belajar sesuai dengan tujuan pembelajaran sebagaimana yang ditetapkan sebelumnya. Dengan pemebelajaran remedial ini diaharapkan agar siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan melalui penyembuhan atau perbaikan. Bagi saya ini merupakan kebaikan guru dan ketulusan guru atau pun tenaga kepndidikan untuk membantu semua siswa supaya mereka bisa mencapai tujuan mereka.

C. Fungsi Pembelajaran Remedial

1. Fungsi korektif, fungsi korektif ini berarti bahwa melalui pengajaran remedial dapat dilakukan pembetulan atau perbaikan terhadap hal-hal yang dipandang belum memenuhi apa yang diharapkan dalam keseluruhan proses pembelajaran.

2. Fungsi pemahaman, dengan pengajaran remedial memungkinkan guru, siswa, atau pihak-pihak lainnya akan dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik dan komprehensif mengenai pribadi siswa.

3. Fungsi penyesuaian, pengajaran remedial dapat membentuk siswa untuk bisa beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan lingkungannya (proses belajarnya). Artinya, siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya sehingga peluang untuk mencapai hasil yang lebih baik semakin besar.

4. Fungsi pengayaan, pengajaran remedial akan dapat memperkaya proses pembelajaran, sehingga materi yang tidak disampaikan dalam pengajaran regular, akan dapat diperoleh melalui pengajaran remedial.

5. Fungsi akselerasi, dengan pengajaran remedial akan dapat diperoleh hasil belajar yang lebih baik dengan menggunakan waktu yang efektif dan efisien.

6. Fungsi terapeutik, ini berarti bahwa secara langsung atau tidak, pengajaran remedial akan dapat membantu menyembuhkan atau memperbaiki kondisi-kondisi kepribadian siswa yang diperkirakan menunjukkan adanya penyimpangan.

D. Prinsip-Prinsip pembelajaran Remedial

Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran remedial sesuai dengan sifatnya sebagai pelayanan khusus antara lain:

a.    Adaptif
Pembelajaran remedial hendaknya memungkinkan peserta didik untuk belajar sesuai dengan daya tangkap, kesempatan, dan gaya belajar masing-masing.

b.    Interaktif
Pembelajaran remedial hendaknya melibatkan keaktifan guru untuk secara intensif berinteraksi dengan peserta didik dan selalu memberikan monitoring dan pengawasan agar mengetahui kemajuan belajar peserta didiknya.

c.  Fleksibilitas dalam Metode Pembelajaran dan Penilaian
Pembelajaran remedial perlu menggunakan berbagai metode pembelajaran dan metode penilaian yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.

d. Pemberian Umpan Balik Sesegera Mungkin
Umpan balik berupa informasi yang diberikan kepada peserta didik mengenai kemajuan belajarnya perlu diberikan sesegera mungkin agar dapat menghindari kekeliruan belajar yang berlarut-larut.

e.     Pelayanan Sepanjang Waktu
Pembelajaran remedial harus berkesinambungan dan programnya selalu tersedia agar setiap saat peserta didik dapat mengaksesnya sesuai dengan kesempatan masing-masing.

E. Metode Dalam Pembelajaran Remedial

Metode yang digunakan dalam pengajaran remedial yaitu metode yang dilaksanakan dalam keseluruhan kegiatan bimbingan belajar mulai dari tingkat identifikasi kasus sampai dengan tindak lanjut. Metode yang dapat digunakan , yaitu :

1.      Tanya Jawab
Metode ini digunakan dalam rangka pengenalan kasus untuk mengetahui jenis dan sifat kesulitan siswa. Tanya jawab dapat dilakukan secara individual maupun secara kelompok.
Dalam rangka perbaikan serangkaian tanya jawab dapat membantu siswa dalam memahami dirinya, mengetahui kelebihan/kekurangannya, dan memperbaiki cara belajarnya.

2.      Diskusi
Metode ini digunakan dengan memanfaatkan interaksi antar-individu dalam kelompok untuk memperbaiki kesulitan belajar yang dialami oleh sekelompok siswa. 

3.      Tugas
Metode ini dapat digunakan dalam rangka mengenal kasus dan pemberian bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar. Dengan metode ini, siswa diharapkan dapat lebih memahami dirinya, dapat memperdalam materi yang telah dipelajari, dan dapat memperbaiki cara-cara belajar yang pernah dialami.

4.      Kerja Kelompok
Metode ini hampir bersamaan dengan pemberian tugas dan diskusi. Yang terpenting adalah interaksi di antara anggota kelompok dengan harapan terjadi perbaikan pada diri siswa yang mengalami kesulitan belajar.

5.      Tutor
Tutor adalah siswa sebaya yang ditugaskan untuk membantu temannya yang mengalami kesulitan belajar, karena hubungan antara teman umumnya lebih dekat dibandingkan hubungan guru dengan siswa. Pemilihan tutor ini berdasarkan prestasi, hubungan sosial yang baik, dan cukup disenangi oleh teman-temannya. Tutor berperan sebagai pemimpin dalam kegiatan kelompok sebagai pengganti guru.

6.      Pengajaran Individual
Pengajaran individual adalah interaksi antara guru dengan siswa secara individual dalam proses belajar mengajar. Pendekatan dengan metode ini bersifat teraputik, artinya mempunyai sifat penyembuhan dengan cara memperbaiki cara-cara belajar siswa. Hasil yang diharapkan dalam metode ini di samping adanya perubahan prestasi belajar juga perubahan dalam pemahaman diri siswa.


F. Prosedur Dalam Pelaksanaan Pembelajaran Remedial

Dalam melaksanakan kegiatan remedial sebaiknya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :

a. Analisis Hasil Diagnosis
Diagnosis kesulitan belajar adalah suatu proses pemeriksaan terhadap siswa yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar. Melalui kegiatan diagnosis guru akan mengetahui para siswa yang perlu mendapatkan bantuan. Untuk keperluan kegiatan remedial, tentu yang menjadi fokus perhatian adalah siswa-siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar yang ditunjukkan tidak tercapainya kriteria keberhasilan 80%, maka siswa yang dianggap berhasil.
Setelah guru mengetahui siswa-siswa mana yang harus mendapatkan remedial, informasi selanjutnya yang harus diketahui guru adalah topik atau materi apa yang belum dikuasai oleh siswa tersebut. Sebelum merancang kegiatan remedial, terlebih dahulu harus mengetahui mengapa siswa mengalami kesulitan dalam menguasai materi pelajaran.

b. Menyusun Rencana Kegiatan Remedial
Setelah diketahui siswa-siswa yang perlu mendapatkan remedial, topik yang belum dikuasai setiap siswa, serta faktor penyebab kesulitan, langkah selanjutnya adalah menyusun rencana pembelajaran. Sama halnya pada pembelajaran pada umumnya, komponen-komponen yang harus direncanakan dalam melaksanakan kegiatan remedial adalah sebagai berikut;

  1. Merumuskan indikator hasil belajar
  2. Menentukan materi yang sesuai engan indikator hasil belajar
  3. Memilih strategi dan metode yang sesuai dengan karakteristik siswa
  4. Merencanakan waktu yang diperlukan
  5. Menentukan jenis, prosedur dan alat penilaian.

c. Melaksanakan Kegiatan Remedial
Setelah kegiatan perencanaan remedial disusun,langkah berikutnya adalah melaksanakan kegiatan remedial. Sebaiknya pelaksanaan kegiatan remedial dilakukan sesegera mungkin, karena semakin cepat siswa dibantu mengatasi kesulitan yang dihadapinya, semakin besar kemungkinan siswa tersebut berhasil dalam belajarnya.

d. Menilai Kegiatan Remedial
Untuk mengetahui berhasil tidaknya kegiatan remedial yang telah dilaksanakan, harus dilakukan penilaian. Penilaian ini dapat dilakukan dengan cara mengkaji kemajuan belajar siswa.Apabila siswa mengalami kemauan belajar sesuai yang diharapkan, berarti kegiatan remedial yang direncanakan dan dilaksanakan cukup efektif membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Tetapi, apabila siswa tidak mengalami kemajuan dalam belajarnya berarti kegiatan remedial yang direncanakan dan dilaksanakan kurang efektif.

Sumber :
Boon, R. (2005) Remediation of reading, spelling, and comprehension. Sydney: Harris Park
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Panduan Teknis Pembelajaran Remedial dan Pengayaan di Sekolah Dasar. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Jumat, 10 April 2020

Keterampilan dasar mengajar 2


TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
Tentang
Keterampilan Dasar Mengajar 2



Disusun Oleh:
MILA KURNIA
(1820097)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing
Yessi Rifmasari,M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
 SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2020



Keterampilan dasar mengajar adalah keterampilan yang harus dimiliki setiap guru agar proses pembelajarannya berjalan dengan efektif dan bermanfaat. Adapun beberapa keterampilan dalam mengajar yaitu:

1. Keterampilan Membuka dan Menutup pelajaran
           
            Membuka pelajaran merupakan langkah awal seoarang guru dalam kegiatan belajar mengajar. Kegiatan membuka pembelajaran didefinisikan sebagai alat atau proses yang memasukkan peserta didik ke dalam keadaan penuh perhatian dan belajar' (Brown 1991:98 dalam Mukminan 2013:211). Dengan demikian secara teknis, kegiatan membuka pembelajaran diartikan sebagai aktivitas pengajar untuk menciptakan suasana siap rnental dan menimbulkan perhatian peserta didik agar terpusat kepada apa yang akan dipelajari. Sedangkan kegiatan menutup pembelajaran dapat didefinisikan sebagai pengarahan perhatian peserta didik ke pada penyelesaian tugas tertentu atau urutan kegiatan pembelaiaran. Kegiatan menutup pembelajaran merupakan kegiatan memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang dipelajari peserta didik, mengetahui tingkat pencapaian peserta didik dan tingkat keberhasilan pengajar dalam proses pembelajaran.
            Yang dimaksud dengan membuka pelajaran (set induction) ialah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar untuk menciptakan prokondusi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat pada apa yang akan dipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek yang positif terhadap kegiatan belajar. Sedangkan menutup pelajaran (closure) ialah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri pelajaran atau kegiatan belajar mengajar.
            Jadi dapat diketahui bahwa kegiatan membuka dan menutup pembelajaran tidak mencakup kegiatan rutin yang dilakukan pengajar seperti: menunggu tanda bel, mengucapkan salam, mengecekkehadiran peserta didik menyiapkan alat peraga, dan sebagainya, tetapi merujuk pada kegiatan yang terkait langsung dengan perubahan perilaku peserta didik
            Komponen keterampilan membuka pelajaran meliputi: menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberi acuan melalui berbagai usaha, dan membuat kaitan atau hubungan di antara materi-materi yang akan dipelajari. Komponen keterampilan menutup pelajaran meliputi: meninjau kembali penguasaan inti pelajaran dengan merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan, dan mengevaluasi.

Dalam membuka pelajaran guru haruslah:
(1) Menarik perhatian siswa: beberapa cara yang digunakan guru untuk menarik perhatian siswa antara lain dengan variasi gaya mengajar, penggunaan alat bantu mengajar dan pola interaksi yang bervariasi.
(2) Menimbulkan motivasi: dengan cara menunjukan kehangatan dan keantusiasan menimbulkan rasa ingin tahu, mengemukakan ide-ide yang bertentangan dan memperhatikan minat siswa.
(3) Memberikan acuan: usaha memberikan gambaran yang jelas kepada siswa mengenai yang akan dipelajari dengan cara mengemukakan secara spesifik dan singkat. Antara lain dengan mengemukakan kompetensi dasar, indikator hasil belajar.
(4) Membuat kaitan: bahan pengait sangat penting digunakan bila guru ingin memulai pelajaran baru. Antara lain mencari batu loncatan dari pengetahuan yang dimiliki siswa, guru membandingkan atau mempertentangkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah diketahui siswa, mengusahakan kesinambungan pelajaran yang lalu dengan sekarang.

Sedangkan dalam menutup pelajaran guru haruslah:
(1) Meninjau kembali dengan cara merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan.
(2) Mengevaluasi dengan berbagai bentuk evaluasi, misalnya mendemonstrasikan keterampilan, meminta siswa mengaplikasikan ide baru dalam situasi yang lain, mengekspresikan pendapat siswa sendiri, dan memberikan soal-soal tertulis serta mengekspresikan ide baru dalam situasi lain, soal tertulis.
(3) Memberi dorongan psikologi atau sosial.
(4) Interaksi guru dengan siswa saling menghargai dan memberikan dorongan psikologi dan sosial dengan memuji hasil yang dicapai, mengingatkan pentingnya materi, memberi harapan positif, meningkatkan percaya diri siswa akan potensi diri.

Tujuannya:
a. Membuka Pembelajaran bertujuan untuk:
1) Memusatkan perhatian dan membangkitkan motivasi peserta didik terhadap tugas-tugas yang harus dilakukan.
2) Menginformasikan cakupan materi yang akan dipelajari dan batas-batas tugas yang akan dikerjakan peserta didik.
3) Memberikan gambaran mengenai metode atau pendekatan-pendekatan yang akan digunakan maupun kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan peserta didik.
4) Melakukan apersepsi, yakni mengaitkan materi yang telah dipelajari dengan yang akan dipelajari.

b. Menutup pembelajaran
1) Untuk mengetahui tingkat keberhasilan peserta didik dalam pencapaian kompetensi.
2) Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pengajar dalam melaksanakan kegiatan pembelaiaran.
3) Membuat rantai kompetensi antar kompetensi yang sekarang sedang dipelajari dan kompetensiserta materi pada kegiatan yang akandatang.
4) Menjelaskan hubungan antara pengalaman belajar yang telah dialami dengan pengalaman baru yang akan dialami/dipelajari pada kegiatan yang akan datang.


2. Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
           
            Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan, atau pemecahan masalah. Diskusi kelompok merupakan strategi yang memungkinkan siswa menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui satu proses yang memberi kesempatan untuk berpikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif. Dengan demikian diskusi kelompok dapat meningkatkan kreativitas siswa, serta membina kemampuan berkomunikasi termasuk di dalamnya keterampilan berbahasa.


3. Keterampilan Mengelola Kelas

            Menurut Mukminan (2013:225) Mengelola kelas dapat diartikan sebagai upaya menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal terkait dengan proses pembelajaran. Seadangkan keterampilan mengelola kelas berarti kemampuan pengajar menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimai. Kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika pengajar mampu mengatur peserta didik dan sarana-prasarana pembelajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Dengan pengelolaan keias yang baik diharapkan akan tercipta kondisi belajar yang optimal bagi peserta didik dan mengembalikan ke kondisi belajar yang optimal apabila terdapat gangguan dalam proses pembelajaran.
           
Tujuannya:
a. Mendorong peserta didik mengembangkan tanggung jawab individual terhadap perilaku nya.
b. Membantu peserta didik mengerti arah perilaku yang sesuai.
c. Menimbulkan rasa tanggung jawab pada setiap peserta didik dalam tugas dan berperilaku positif.

Komponennya:
Keterampilan mengelola kelas yang perlu dikuasai pengajar adalah:
1) memberikan petunjuk yang jelas pada setiap kegiatan pembelajaran
2) mengarahkan perilaku pada pencapaian kompetensi secara optimal
3) mengelola kelompok, baik dalam bentuk kelompok kecil, sedang maupun besar
4) menuntui tanggung jawab peserta didik secara individual maupun kelompok
5) membagi perhatiansecara merata ke seluruh kelas
6) menunjukkan sikap tanggap terhadap permasalahan peserta didik
7) menegur peserta didikyang berperilaku negatif
8) memberikan penguatan bagi yang berhasil melakukan perilaku positif
9) menemukan dan memecahkan perilaku yang menimbulkan rnasalah.


Prinsip penggunaannya:
a. Menekankan pada perilakuyang positif, penanaman disiplin, dan tanggung jawab
b. Hindari pemberian informasi yang berlebihan, ketidaktepatan memulai dan mengakh kegiatan, berkepanjangan (bertele-tele) dalam pemecahan permasalahan, daseringnya memberikan penjelasan yang tidak relevan dengan materi pembahasan.


4. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perseorangan

            Secara fisik bentuk pengajaran ini ialah berjumlah terbatas, yaitu berkisar antara 3-8 orang untuk kelompok kecil, dan seorang untuk perseorangan. Pengajaran kelompok kecil dan perseorangan memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap siswa serta terjadinya hubungan yang lebih akrab antara guru dan siswa dengan siswa. Komponen keterampilan yang digunakan adalah keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi, keterampilan mengorganisasi, keterampilan membimbing dan memudahkan belajar dan keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
            Dari kompetensi yang telah dijelaskan di atas, yang paling penting bagi guru adalah bagaimana cara guru dapat menggunakan agar proses pembelajaran dapat berjalan baik. Salah satu faktor yang dapat mengukur proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik, makin banyaknya jumlah siswa bertanya.




DAFTAR RUJUKAN

Cucun Sunaengsih, Deden Tantang Surya. 2018. Pembelajaran Migro. Sumedang: UPI    Sumedang Press

Mukminan, dkk. 2013. Modul Pelatihan Pengembangan Keterampilan Dasar Teknik Intruksional (PEKERTI). Yogyakarta : Universitas Negri Yogyakarta.

Rusman. 2017. Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana

Sabtu, 21 Maret 2020

Keterampilan Dasar Mengajar 1

TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
Tentang
Keterampilan Dasar Mengajar 1



Disusun Oleh:
MILA KURNIA
(1820097)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing
Yessi Rifmasari,M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
 SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA
PADANG
2020


 KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR
     Menurut hasil penelitian ( Turney, 1979), terdapat 8 keterampilan dasar mengajar yang dianggap berperan penting dalam  menentukan keberhasilan pembelajaran. Keterampilan yang dimaksud adalah sebagai berikut.

1.      Keterampialan Bertanya

G. A. Brown dan R. Edmodson. 1984 ( dalam Anitah Sri 2007: 7.6) mendefenisikan pertanyaan adalah “segala pernyataan yang menginginkan tanggapan verbal (lisan)”. Pada umumnya, tujuan bertanya adalah untuk memperoleh informasi. Namun, keiatan bertanya yang dilakukan oleh guru, tidak hanya bertujuan untuk memperoleh informasi, tetapi juga untuk meningkatkan terjadinya interaksi antara guru dengan peserta didik dan antara peserta didik dengan peserta didik. Dengan demikian, pertanyaan yang diajukan guru tidak semata-mata bertujuan mendapatkan informasi tentang pengetahuan peserta didiknya, tetapi yang jauh lebih penting adalah untuk mendorong para peserta didik berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Ada 4 alasan mengapa seorang guru perlu menguasai keterampilan bertanya, karena:
1. Guru cenderung mendominasi kelas dengan ceramah
2. Peserta didik belum terbiasa mengjukan pertanyaan
3. Peserta didik harus dilibatkan secara mental-intelektual secara maksimal
4. Adanya anggapan bahwa pertanyaan hanya berfungsi untuk menguji pemahaman
    peserta didik.
Turney. 1979  ( dalam Anitah Sri 2007: 7.7) pertanyaan yang baik mempunyai
berbagai fungsi antara lain:
1. Membangkitkan minat dan keinginantahuan pserta didik tentang suatu topic.
2. Memusatkan perhatian pada masalah tertentu
3. Menggalakkan penerapan belajar aktif
4. Merangsang peserta didik mengjukan pertanyaan sendiri
5. Menstrukturkan tugas-tugas  hingga kegiatan belajar dapat berlangsung secara
    maksimal.
6. Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik.
7. Mengkomunikasikan dan merealisasikan bahwa semua peserta didik harus
    terlibat
8. Menyediakan kesempatan bagi peserta didik untuk mendemonstrasikan
   pemahamannya tentang informasi yang diberikan.
9. Melibatkan peserta didik dalam memanfaatkan kesimpulan yang dapat
   mendorong mengembangkan proses berfikir.
10. Mengembangkan kebiasaan menanggapi pernyataan teman atau pernyataan
      guru.
11. Memberi kesempatan untuk belajar berdiskusi.
12. Membantu peserta didik menyatakan perasaan dan pikiran yang murni.
     Pada dasarnya, keterampilan bertanya dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjut. Keterampilan bertanya dasar terdiri atas komponen-komponen: a) Pengajuan pertanyaan secara jelas dan singkat, b) pemberian acuan, c) pemusatan, d) pemindahan giliran, e) penyebaran, f) pemberian waktu berfikir, g) pemberian tuntunan.
     Keterampilan bertanya lanjutan terdiri atas komponen-komponen: a) pengubahan tuntutan kognitif dalam menjawab pertanyaan, b) pengaturan urutan pertanyaan, c). penggunaan pertanyaan pelacak, d) peningkatan terjadinya interaksi.
    Dalam menerapkan keterampilan bertanya dasar dan lanjut, guru perlu memperhatikan perinsip-prinsip: a) kehangatan dan keantusisan, b) Menghindari kebiasaan mengulang pertanyaan sendiri, menjawab pertanyaan sendiri, mengajukan pertanyaan yang mengundang jawaban serempak, mengulangi jawaban peserta didik, mengajukan pertanyaan ganda, dan menunjuk peserta didik sebelum mengajukan pertanyaan, c) Waktu berfikir yang diberikan untuk pertanyaan tingkat lanjut lebih banyak dari yang  diberikan untuk pertanyaan tingkat dasar, d) pertanyaan pokok harus disusun terlebih dahulu, kemudian dinilai sesudah selesai mengajar. 

2. Keterampilan Memberi Penguatan
  
 Penguatan adalah respons yang diberikan terhadap perilaku atau perbuatan yang dianggap baik, yang dapat membuat terulangnya atau meningkatnya perilaku/perbuatan yang dianggap baik tersebut. Dalam kegiatan pembelajaran, penguatan mempunyai peran penting dalam meningkatkan keefektifan kegiatan pembelajaran. Pujian atau respons positif guru terhadap perilaku perbuatan peserta didik yang positif akan membuat peserta didik merasa senang karena dianggap mempunyai kemampuan. Namun sejogyanya, guru sangat jarang memuji perilaku/perbuatan peserta didik yang positif. Yang sering terjadi adalah  guru menegur atau memberi respons negative terhadap perbuatannju t peserta didik yang negative. Oleh karena itu, guru perlu melatih diri sehingga terampil dan terbiasa memberikan penguatan.
    Dalam kaitan dengan kegiatan pembelajaran, tujuan memberi penguatan adalah untuk:
1. Meningkatkan perhatian peserta didik
2. Membangkitkan dan memelihara motivasi peserta didik
3.  Memudahkan peserta didik belajar
4. Mengontrol dan memodifikasi tingkah laku peserta didik serta mendorong mun
     culnya perilaku  yang positif.
5. Menimbulkan rasa percaya diri pada diri peserta didik
6. Memelihara iklim kelas yang kondusif
    Penguatan dapat dibagi menjadi penguatan verbal dan nonverbal. Penguatan verbal diberikan dalam bentuk kata-kata/kalimat pujian, sentuhan, kegiatan yang menyenangkan, serta benda atau simbol.  Penguatan dapat juga diberikan dalam bentuk penguatan tak penuh jika respons/perilaku peserta didik tidak sepenuhnya memenuhi harapan.
    Dalam memberikan penguatan harus diperhatikan prinsip-prinsip berikut:
1. Kehangatan dan keantusisan
2. Kebermaknaan
3. Hindari respons negative
4. Penguatan harus  bervariasi
5. Sasaran penguatan  harus jelas
6. Penguatan harus diberikan segera setelah perilaku yang diharapkan muncul.

3.   Keterampilan Mengadakan Variasi

Variasi adalah keanekaan yang membuat sesuatu tidak menoton. Variasi dapat berwujud perubahan-perubahan atau perbedaan-perbedaan. Yang sengaja diciptakan/dibuat untuk memberikan kesan yang unik. Misalnya model baju yang sama, tetapi berbeda hiasannya akan menimbulkan kesan unik bagi masing-masing model tersebut.
Variasi sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Peserta didik akan menjdi sangat bosan jika guru selalu mengajar dengan cara yang sama. Tidak jarang terjadi adanya peserta didik yang selalu hafal dengan “gaya” mengajar gurunya sehingga ia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh guru. Hal yang demikian, sering dijadikan bahan permainan yang disampaikan dengan berbagai kode. Tentu saja keadaan seperti ini, tidak menunjang keefektifan kegiatan pembelajaran di kelas. Untuk menghindari terjadinya hal-hal seperti ini, guru perlu menguasai keterampilan mengadakan variasi.
Variasi di dalam kegiatan pembelajaran bertujuan antara lain untuk hal-hal berikut.
1. Menghilangkan kebosanan peserta didik dalam belajar
2. Meningkatkan motivasi peserta didik dalam mempelajari sesuatu
3. Mengembangkan keinginan peserta didik untuk mengetahui dan menyelidiki hal-hal
    Baru
4. Melayani gaya belajar peserta didik yang beraneka ragam
5. Meningkatkan kader keaktifan/keterlibatan  peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.
   Komponen keterampilan mengadakan vriasi dibagi menjadi 3 kelompok sebagai berikut.
a. Variasi dalam gaya mengajar yang meliputi variasi suara, pemusatan perhatian,
    kesenyapan, pergantian posisi guru, kontak pandang, serta gerakan badan dan mimik.
b. Variasi didengar, dilihat, dan interaksi dan kegiatan
c. Variasi penggunaan alat bantu pelajaran yang meliputi alat/bahan yang dapat
    dimanipulasi.

4.   Keterampilan Menjelaskan

Istilah menjelaskan sering dikacaukan dengan menceriterakan. Misalnya pengalaman berkelana ke berbagai daerah yang diceriterakan kepada orang lain sering dianggap sebagai kegiatan menjelaskan. Dari segi etimologis, kata menjelaskan “mengandung makna “membuat sesuatu menjadi jelas”. Dalam kegiatan menjelaskan terkandung makna pengkajian informasi secara sistematis sehingga yang menerima penjelasan mempunyai gambaran yang jelas tentang hubungan informasi yang satu denga yang lain.
Komponen keterampilan menjelaskan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:
Merencanakan materi penjelasan yang mencakup:
Menganalisis masalah
Menentukan hubungan
Menggunakan hokum, rumus, dan generalisasi yang sesuai
2. Menyajikan penjelasan yang mencakup:
    a. kejelasan, yaitu keterampilan yang erat kaitannya dengan penggunaan bahasa lisan
    b. penggunaan contoh dan ilustrasi, yang dapat dilakukan dengan pola induktif atau
        deduktif.
pemberian tekanan yang dapat dilakukan dengan berbagai variasi gaya mengajar dan membuat struktur sajian
balikan, yang bertujuan untuk mendapat informasi tentang tingkat pemahaman peserta didik, baik melalui pertanyaan maupun melalui tugas.
      Penjelasan dapat diberikan pada awal, tengah, dan akhir pelajaran, dengan selalu memperhatikan karakteristik peserta didik yang diberi penjelasan serta materi/masalah yang dijelaskan.

Hakikat Media Pembelajaran


TUGAS
STRATEGI PEMBELAJARAN DI SD
Tentang
Hakikat Media Pembelajaran



Disusun Oleh:
MILA KURNIA
(1820097)

Kelas: 4.4 PGSD


Dosen Pembimbing
Yessi Rifmasari,M.Pd



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
 SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA 
PADANG
2020




A. HAKIKAT, FUNGSI, DAN PERANAN MEDIA PEMBELAJARAN

Menurut Heinich, dkk (1993) media merupakan alat saluran komunikasi. Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata ”medium” yang secara harfiah berarti ”perantara”, yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan penerima pesan (a receiver), seperti film, televisi, diagram, bahan tercetak, komputer, dan instruktur. Dalam proses pembelajaran terdapat pesan-pesan yang harus dikomunikasikan. Pesan tersebut biasanya merupakan isi dari suatu topik pembelajaran. Pesan-pesan ini disampiakan oleh guru kepada siswa melalui suatu media dengan menggunakan prosedur pembelajaran tertentu yang disebut metode.
Media pembelajaran pada hakikatnya merupakan saluran atau jembatan dari pesan-pesan pembelajaran (message) yang disampaikan oleh sumber pesan (guru) kepada penerima pesan (siswa) dengan maksud agr pesan-pesan tersebut dapat diserap dengan cepat dan tepat sesuai dengan tujuannya.

Fungsi utama media pembelajaran, yaitu sebagai sarana banru untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang lebih efektif. Dengan fungsi itu, media pembelajaran harus dijadikan bagian integral dari keseluruhan proses pembelajran itu sendiri. Dalam penggunannya bahan ajar, tidak diperkenankan menggunaknnya hanya sekadar untuk permainan atau memancing perhatian siswa semata. Fungsi lain yaitu untuk mempercepat proses belajar sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan mengurangi verbalisme (salah penafsiran). 

Guru dapat lebih mengefektifkan pencapaian kompetensi/tujuan pembelajran melalui penggunaan media secara optimal, sebab media ini memiliki nilai ini memiliki nilai dan manfaat yang sangat menguntungkan, diantaranya:
1). Membuat konkret konsep-konsep yang abstrak.
2). Menghadirkan objek-objek yang terlalu berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan belajar.
3). Menampilkan objek yang terlalu besar atau kecil.
4). Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat atau lambat.

B. JENIS DAN KARAKTERISTIK MEDIA PEMBELAJARAN

Jenis Media Pembelajaran

Berbagai sudut pandang untuk menggolongkan jenis-jenis media. Menggolongkan media berdasarkan tiga unsur pokok (suara, visual dan gerak):
1. Media audio
2. Media cetak
3. Media visual diam
4. Media visual gerak
5. Media audio semi gerak
6. Media visual semi gerak
7. Media audio visual diam
8. Media audio visual gerak

Anderson (1976) menggolongkan menjadi 10 media:
1. Audio: Kaset audio, siaran radio, CD, telepon
2. Cetak: buku pelajaran, modul, brosur, leaflet, gambar
3. Audio-cetak: kaset audio yang dilengkapi bahan tertulis
4. Proyeksi visual diam: Overhead transparansi (OHT), film bingkai (slide)
5. Proyeksi audio visual diam : film bingkai slide bersuara
6. Visual gerak: film bisu
7. Audio visual gerak: film gerak bersuara, Video/VCD, Televisi
8. Objek fisik: Benda nyata, model, spesimen
9. Manusia dan lingkungan: guru, pustakawan, laboran
10. Komputer: CAI

Karakteristik Media Pembelajaran

Secara garis besar, unsur-unsur yang terdapat pada media visual terdiri dari garis, bentuk, warna, dan tekstur (Arsyad, 1997). Untuk memberi kesan penekanan, juga untuk membangun kemenarikan dan keterpaduan, bahkan dapat mempertinggi realisme dan menciptakan respon emosional diperlukan warna. Sementara, tekstur digunakan untuk menimbulkan kesan kasar dan halus, juga untuk menambah penekanan sebagaimana halnya warna.
Dalam mengembangkan sebuah media pembelajaran, perlu diperhatikan beberapa prinsip agar media tersebut memberikan pengaruh efektif dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Meyer (2009) menyebutkan sepuluh prinsip,yang secara rinci tercantum dalam bukunya “Multimedia Learning”. 

C. PEMILIHAN, PENGGUNAAN DAN PERAWATAN MEDIA PEMBELAJARAN SEDERHANA

1. Pemilihan Media Pembelajaran (Media Selection)
Terdapat 3 hal yang perlu dijadikan pertimbangan dalam pemilihan media pembelajaran, yaitu :
1. Tujuan pemilihan pembelajaran
Memilih media yang akan digunakan harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihan yang jelas. Apakah digunakan untuk kegiatan pembelajaran atau pemberian informasi yang sifatnya umum atau sekedar hiburan saja ? jika digunakan untuk kegiatan pembelajaran, apakah untuk pembelajaran yang sifatnya individual atau kelompok tujuan pemilihan sangat berkaitan dengan kemampuan dalam menguasai berbagai jenis media pembelajaran berserta karakteristiknya.
2. Karakteristik media pembelajaran
Setiap media pembelajaran memiliki karakteristik tetentu, dilihat dari segi ke andalanya, cara pembuatannya, maupun cara penggunaanya. Pemahaman terhadap karakterisitik berbagai media pembelajaran merupakan kemampuan dasar yang perlu dimiliki dalam kaitannya dengan pemilihan media pembelajaran ini. Selain itu, kemampuan ini memberikan kemungkinan untuk menggunakan berbagai jenis media pembelajaran secara variasi. Apabila kurang memahami karakteristik tersebut maka akan dihadapkan pada kesulitan-kesulitan dan cenderung spekulatif.
3.  Alternatif media pembelajaran yang dapat dipilih
Memilih media pada dasarnya merupakan proses menganbil atau menentukan keputusan dari berbagai pilihan yang ada. Supaya media pembelajaran yang dipilih itu tepat, selain harus mempertimbangkan ketiga hal tersebut, perhatikan pula beberapa faktor berikut :
a.  Rencana pembelajaran
b.  Sasaran belajar
c.  Tingkat keterbacaan media
d.  Situasi dan kondisi
e.  Objektivitas

2. Penggunanaan Media Pembelajaran
     Media pembelajaran yang telah dipilih agar dapat digunakan secara efektif dan efisien perlu menempuh langkah-langkah secara sistematis. Ada tiga langkah yang pokok yang dapat dilakukan yaitu persiapan, pelaksanaan/penyajian, dan tindak lanjut.
1.      Persiapan
Persiapan maksudnya kegiatan dari seorang tenaga pengajar yang akan mengajar dengan menggunakan media pembelajaran. 
2.      Pelaksanaan/Penyajian
Tenaga Pengajar pada saat melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran perlu mempertimbangkan seperti:
a. Yakinkan bahwa semua media dan peralatan telah lengkap dan siap untuk digunakan.
b. Jelaskan tujuan yang akan dicapai,
c. Jelaskan lebih dahulu apa yang harus dilakukan oleh peserta didik selama proses pembelajaran,
d. Hindari kejadian-kejadian yang sekiranya dapat mengganggu perhatian/konsentrasi, dan ketenangan  peserta didik.
3.      Tindak lanjut
Kegiatan ini perlu dilakukan untuk memantapkan pemahaman peserta didik tentang materi yang dibahas dengan menggunakan media. Disamping itu kegiatan ini dimaksudkan untuk mengukur efektivitas pembelajaran yang telah dilakukannya. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan diantaranya diskusi, eksperimen, observasi,  latihan dan tes.

 Pemeliharaan Media Pembelajaran
       Agar media pembelajaran yang telah dibuat dapat terpelihara dengan baik dan digunakan berkali-kali dalam waktu relatif lama maka perlu pemeliharan dan perawatan. Berikut cara praktif dalam memelihara dan merawat media pembelajaran sederhana tanpa harus mengeluarkan biaya banyak tanpa biaya sedikitpun, antara lain :
1.  Media grafis, seperti bagan, diagram, grafik, poster, dan kartun yang dibuat dengan ukuran besar, diberi bingkai pada bagian atas dan bawah. Cara menyimpananya tidak digulung atau dilipat supaya media tersebut tidak rusak.
2  Dalam upaya pemeliharan dan kepraktisan dalam penggunaan media grafis diupayakan dengan pembuatan papan penyajian, bisa berupa papan planel, papan bulletin, papan tikar.
3  Apabila pihak sekolah memiliki dana yang memadai sebaiknya disediakan ruang untuk penyimpanan berbagai media pembelajaran, baik yang dibuat guru maupun hasil membeli dari toko sehingga media tersebut awet, tahan lama, dan terpelihara dengan baik.

D. PEMANFAATAN LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR

1.Mengatasi kebosanan dalam belajar
Belajar dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar akan meredakan kebosanan siswa. Mereka akan berhadapan dengan lingkungan dinamis yang berbeda dengan lingkungan kelas yang sempit dan terbatas.
2.Memberikan suasana belajar yang unik bagi siswa
Variasi belajar antara dalam dan di luar kelas akan memberikan suasana yang unik dan mengasyikkan bagi siswa.Ini akan meningkatkan gairah dan motivasi belajar siswa untuk memperdalam materi pelajaran.
3.Kesempatan untuk menerapkan teori
Tidak banyak yang dapat dilakukan di ruang kelas yang sempit jika fasilitas dan sumber belajar tidak memadai selain mencatat berbagai teori-teori disiplin ilmu. Dengan memanfaatkan lingkungan, siswa dapat menguji teori yang diperolehnya dengan mempraktikkan langsung di lingkungannya secara nyata.

4.Siswa dapat belajar mandiri
Belajar di luar kelas sesungguhnya memberi kesempatan kepada siswa  untuk mandiri. Mereka tidak akan banyak tergantung kepada guru untuk menggali ilmu pengetahuan di lingkungannya. Jika anak mandiri maka tugas guru tidak akan semakin berat.

5.Memperluas wawasan berfikir siswa
Memanfaatkan lingkungan sekitarnya sebagai sumber belajar akan memperluas wawasan berfikir siswa tentang alam, sosial dan lingkungan sesungguhnya.

6.Meningkatkan prestasi belajar
Prestasi belajar siswa akan dapat ditingkatkan secara optimal bila memanfaatkan sumber belajar yang mendukung, termasuk lingkungan alam, sosial dan budaya.


Sumber:
Anitah, Sri dkk. 2009. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Herry.H.A. 1991. Pembelajaran Terpadu. Jakarta. Universitas Terbuka.